Setiap tahun, BBF mengangkat motif batik yang memiliki karakter dan filosofi tersendiri. Sejumlah motif khas yang pernah diperkenalkan di antaranya Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Kopi Pecah, Blarak Sempal, Sekar Jagad Blambangan, Cacing Sembrug, hingga Wader Kesit.

Tahun ini, motif Sabuk Mangir Latar Ukel menjadi representasi nilai-nilai kehidupan yang diwariskan leluhur Banyuwangi, sekaligus memperkaya khazanah batik lokal agar semakin dikenal masyarakat luas.

Rangkaian kegiatan BBF dan BIK tahun ini turut diisi dengan peragaan busana batik, Financial Expo dan Bazar UMKM, pemilihan Duta Lembaga Jasa Keuangan (LJK), talk show literasi keuangan, kompetisi kreasi budaya dan desain batik, kompetisi tandan Cavendish berkualitas, hingga BIK Run.

Selain menjadi ruang ekspresi budaya, festival ini juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk dan berinteraksi langsung dengan masyarakat maupun wisatawan.

Salah satu pelaku usaha batik yang berpartisipasi dalam festival, Eca mengatakan Sabuk Mangir Latar Ukel menjadi peluang untuk memperkenalkan kekayaan batik Banyuwangi yang lebih beragam.

"Setiap tahun selalu ada motif baru yang diangkat. Harapannya, kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap batik semakin tumbuh dan batik lokal semakin dikenal," pungkasnya.