NADIKABAR.COM — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengatakan bahwa chatbot AI (kecerdasan buatan) di media sosial tidak bisa disamakan dengan kondisi sesungguhnya dan masyarakat diingatkan agar memahami cara kerja teknologi tersebut dan memeriksa informasi sebelum mempercayainya.
Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi, Marroli J. Indarto, mengatakan algoritma media sosial memengaruhi informasi yang dilihat masyarakat setiap hari. Konten yang muncul di linimasa dipilih dan direkomendasikan berdasarkan sejumlah faktor, termasuk aktivitas, minat, dan interaksi pengguna.
"Jadi kami menekankan bahwa informasi yang ada itu bukanlah satu-satunya kebenaran. Harus kita melakukan kembali namanya cek dan recek," ujar Marroli di acara Ngopi Komdigi, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Marroli menjelaskan sistem rekomendasi membuat informasi yang diterima setiap pengguna bisa berbeda. Oleh sebab itu, konten yang muncul di media sosial tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan untuk memahami kondisi yang terjadi di masyarakat.
"Jadi apa yang muncul di media sosial itu tentu tidak menjadi gambaran utuh di dalam realitas sosial," ungkapnya.
Marroli juga mengingatkan perkembangan AI membawa manfaat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mencari informasi hingga mendukung pekerjaan dan kegiatan belajar. Namun, pengguna tetap perlu bersikap kritis terhadap jawaban yang dihasilkan chatbot.
Dia menjelaskan bahwa sistem AI menghasilkan jawaban berdasarkan pola yang dipelajari dan mekanisme pemrosesan bahasanya. Hal itu membuat jawaban chatbot tetap memiliki kemungkinan keliru sehingga perlu diperiksa melalui sumber lain.
"Namun kita juga tetap harus kritis bahwa AI juga menghasilkan jawaban itu juga berdasarkan pola," tuturnya.
Marroli menekankan pentingnya verifikasi informasi melalui sumber yang terpercaya, termasuk media online terverifikasi. Pengguna tidak seharusnya menerima jawaban AI tanpa memeriksa apakah informasi tersebut didukung sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Makanya penting untuk kita melakukan namanya intervensi manusia untuk mengecek terutama. Cek dan recheck juga penting adalah kita mencari konfirmasi kebenaran pada sumber-sumber yang verified, pada media online yang verified, tentunya ya pada media-media lain," tuturnya.
Selain mendorong literasi digital masyarakat, Komdigi meminta platform digital meningkatkan transparansi mengenai sistem yang membentuk pengalaman pengguna. Hal ini mencakup penjelasan mengenai rekomendasi konten, proses moderasi, penggunaan AI, serta mekanisme pengaduan bagi pengguna yang merasa dirugikan.
Marroli mengatakan platform digital memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan cara kerja sistem yang digunakan sekaligus melindungi hak pengguna. Sementara itu, masyarakat perlu tetap kritis dalam mengonsumsi informasi, baik yang diperoleh melalui media sosial maupun teknologi AI.
"Intinya adalah AI boleh membantu kita berpikir tapi kemudian keputusan dan penilaian tetap harus berada di tangan para penggunanya. Untuk itu, kami juga menyadari bahwa sistem yang membentuk pengalaman digital mereka perlu dibuat lebih transparan. Ini terkait dengan platform ya," pungkasnya.