NADIKABAR.COM — Komite sekolah dan orang tua siswa SDN Beber, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), bersepakat menolak pemberian makan bergizi gratis (MBG) secara permanen. Kesepakatan itu diambil setelah dugaan keracunan yang dialami 352 siswa pada Jumat (11/9) lalu.
Ketua Komite SDN Beber, Surya Darmawan, mengatakan kesepakatan tersebut diambil sebagai tindak lanjut dari kejadian dugaan keracunan yang dialami para murid. Kesepakatan itu dilakukan pada Sabtu (12/9), sehari setelah kejadian.
"Runutan kejadian setelah kejadian, pada hari Sabtu secara spontan wali murid berkumpul di SDN Beber dan kami selaku komite berinisiatif untuk melakukan permufakatan untuk mengambil sikap tindaklanjut dari kejadian kemarin," kata Surya kepada awak media, Senin (14/9/2026).
Dalam pertemuan itu, kata Surya, komite juga mengundang seluruh kepala dusun yang ada di sekitar sekolah dan kepala desa. Hasilnya, mereka bersepakat menolak menerima MBG secara permanen.
"Sehingga pada waktu pembahasan, secara kesimpulan kami bersepakat untuk menolak pemberian MBG secara permanen dan seterusnya," ujarnya.
Ia menjelaskan kesepakatan itu diambil karena para wali murid tak mau mengambil risiko tinggi ketika kembali menerima MBG. Surya menilai kebijakan tersebut sangat wajar jika melihat situasi saat kejadian.
"Karena secara trauma anak-anak juga, orang tua murid juga memiliki kewajaran sangat tinggi karena tidak ada yang bisa menjamin berikutnya tidak akan ulang kejadian seperti itu," tegasnya.
Menurutnya, para wali murid juga telah bersepakat untuk tidak menerima tawaran pindah dapur. Pihaknya tak akan mengambil risiko tinggi jika MBG diberikan oleh dapur lain. Mereka tetap dengan kesimpulan pertemuan untuk menolak MBG dari mana pun dan menu apa pun.
"Artinya, tidak ada lagi MGB di SDN Beber. Itu sudah menjadi kesepakatan," imbuhnya.
Ia mengakui kesepakatan itu diambil tanpa sepengetahuan para guru di SDN Beber. Namun, ia melihat pihak sekolah akan ikut ketika hal itu menjadi kesepakatan komite dan wali murid.
"Dan ini tidak melibatkan pihak sekolah, ini adalah murni kemauan dari wali murid," bebernya.
Sebelumnya, sebanyak 352 siswa dari sejumlah sekolah dasar (SD) di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), diduga menjadi korban keracunan MBG. Sebagian besar siswa disebut telah pulih dan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.
Jumlah tersebut merupakan data korban yang telah terdeteksi hingga saat ini. Para siswa sebelumnya dilarikan ke sejumlah puskesmas setelah mengalami keluhan seperti muntah-muntah dan pusing pada Jumat (11/9/2026).