NADIKABAR.COM — Studi dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengungkap konsentrasi karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca utama lainnya di atmosfer mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025. Kondisi ini semakin memperkuat kenaikan suhu Bumi dalam jangka panjang.

Dalam WMO Greenhouse Gas Bulletin, WMO mengungkap rata-rata konsentrasi CO2 di atmosfer secara global pada 2025 mencapai 482,8 parts per million (ppm). Angka ini setara dengan 153 persen dibandingkan tingkat pada tahun 1750, sebelum era industrialisasi.

Konsentrasi metana dan dinitrogen oksida (nitrous oxide) merupakan gas rumah kaca berumur panjang terpenting kedua dan ketiga akibat aktivitas manusia dan meningkat hingga mencapai rekor baru.

"Setahun berlalu, rekor baru kembali tercipta. Gas rumah kaca merangkap panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya di atmosfer. Kondisi ini menyediakan energi bagi terjadinya cuaca yang lebih ekstrem dan berbagai risiko terkait bagi perekonomian serta masyarakat kita," ungkap Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barret dalam keterangannya, Jumat (27/10).

Barret menyebut sebelas tahun terakhir merupakan periode terpanas di Bumi yang pernah tercatat, dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut.

CO2 memiliki masa bertahan yang sangat panjang sehingga dampaknya terhadap iklim global dapat berlangsung puluhan hingga ratusan tahun.

"Sebelas tahun terakhir merupakan periode terpanas yang pernah tercatat dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut. CO2 memiliki masa bertahan yang sangat panjang sehingga dampaknya terhadap iklim global tidak hanya berlangsung selama bertahun-tahun, tetapi juga puluhan hingga ratusan tahun," kata Berret.

WMO menerbitkan buletin tersebut sebagai salah satu publikasi tahunan utamanya untuk menyediakan informasi ilmiah yang dapat dijadikan acuan oleh para negosiator dalam konferensi iklim PBB.

PBB akan menggelar pertemuan COP31 untuk membahas komitmen iklim sekaligus cara mengimplementasikannya menjadi tindakan nyata.

Temuan mengungkap sekitar setengah dari total CO2 yang dilepaskan setiap tahun tetap berada di atmosfer, sedangkan sisanya diserap oleh ekosistem daratan dan lautan bumi.

Laporan ini turut menunjukkan konsentrasi gas rumah kaca. Dengan catatan, perhitungan yang dilakukan meliputi jumlah gas terakumulasi di atmosfer, bukan jumlah emisi baru setiap tahunnya.

Ketika buletin ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2004, rata-rata tahunan kadar CO2 yang diukur melalui jaringan stasiun pemantauan Global Atmosphere Watch milik WMO mencapai 377,5 ppm.