Indeks Gas Rumah Kaca Tahunan dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) menunjukkan bahwa periode 1990 hingga 2025, radiative forcing atau efek pemanasan terhadap iklim akibat gas rumah kaca berumur panjang meningkat sebesar 56 persen, sementara CO2 menyumbang sekitar 81 persen dari peningkatan tersebut.
Laju peningkatan CO2 meningkat tiga kali lipat sejak tahun 1960-an. Kenaikan rata-rata tahunannya yang sebelumnya sebesar 0,8 ppm menjadi 2,4 ppm per tahun selama periode 2011 hingga 2020.
Pada periode 2024 hingga 2025, rata-rata konsentrasi CO2 global meningkat sebesar 2,8 ppm. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kenaikan selama satu dekade, namun sedikit lebih rendah dibandingkan lonjakan besar yang terjadi pada periode 2023-2024.
"Kenaikan yang lebih rendah pada periode 2024-2025 mencerminkan pemulihan kemampuan ekosistem daratan dalam menyerap karbon dan berkurangnya emisi karbon akibat kebakaran pada 2025. Hal ini terjadi setelah fenomena El Nino kuat pada tahun 2023-2024 yang menurunkan kemampuan biosfer menyerap karbon akibat meningkatnya kekeringan, vegetasi yang lebih kering dan kebakaran hutan yang lebih sering," ungkap pejabat ilmiah Senior WMO, Oksana Tarasova.
Menurut Tarasova, kenaikan sebesar 2,8 ppm per tahun menambahkan polusi udara yang sangat besar ke atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil.
Ia turut memperingatkan konsentrasi CO2 akan kembali meningkat pada tahun 2026 akibat pembakaran bahan bakar fosil dan berkembangnya fenomena El Nino yang kuat.
"Fenomena ini akan memengaruhi kemampuan ekosistem daratan menyerap karbon, seperti yang terjadi pada 2023-2024. Risiko berkurangnya penyerapan CO2 oleh lautan juga semakin meningkat seiring perubahan iklim yang terjadi," ujar Tarasova.
Ilustrasi. Studi turut mengungkap bahwa metana menyumbang sekitar 16 persen pada efek pemanasan terhadap iklim yang dihasilkan oleh gas rumah kaca (Foto: REUTERS/Gonzalo Fuentes)
Studi turut mengungkap bahwa metana menyumbang sekitar 16 persen pada efek pemanasan terhadap iklim yang dihasilkan oleh gas rumah kaca yang bertahan lama. Namun, masa bertahan metana di atmosfer jauh lebih singkat dibandingkan CO2.
Sekitar 35 persen metana yang dilepaskan ke atmosfer berasal dari sumber alami seperti lahan basah yang juga sensitif terhadap perubahan iklim. Sementara itu, sekitar 65 persen lainnya berasal dari aktivitas manusia seperti peternakan sapi, pertanian padi, eksploitasi bahan bakar fosil, tempat pembuangan sampah dan pembakaran biomassa.
Rata-rata konsentrasi metana global pada 2025 mencapai 1.948 parts per billiion (ppb). Angka ini setara dengan 267 persen dibandingkan tingkat pada tahun 1750.
Dinitrogen oksida (N20) merupakan gas rumah kaca bertahan lama terpenting ketiga. Gas ini berasal dari sumber alami maupun aktivitas manusia seperti pembakaran biomassa, penggunaan pupuk dan berbagai proses industri.