NADIKABAR.COM — Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) di Solo, Jawa Tengah, mengusung topik tentang pentingnya membangun kepercayaan.

"Kalau kita berbicara mengenai topik ini ya, tema besar bahwa humas sebagai Daya Bangsa: Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia. Bagaimana bisa menggerakkan bangsa,” kata Ketua Umum Perhumas Boy Kelana, di Solo, Sabtu.

Dalam paparannya, ia menyampaikan kepercayaan sangat penting, dan membangun kepercayaan tidak bisa instan, melainkan harus dilakukan terus-menerus secara berkelanjutan.

"Baik apakah itu sebagai humas pemerintah, apakah itu humas korporasi, apakah itu akademisi, apakah itu organisasi sosial lainnya gitu ya, apapun itu, bahkan termasuk media. Dalam berkomunikasi, kita harus membangun kepercayaan," katanya.

Menurut dia, hal itu penting dilakukan mengingat situasi saat ini yang cukup rumit, di antaranya tantangan geopolitik dan tantangan yang terjadi di dalam negeri.

Oleh karena itu, kata dia, profesi kehumasan dapat berperan bukan hanya menyebarkan informasi, tetapi juga harus bisa melihat segala sesuatu yang lebih besar lagi.

"Tidak hanya membuat pers rilis, kita sebarkan kepada teman-teman media, tapi lebih daripada itu profesi humas harus punya peran yang lebih untuk bisa strategis membentuk apa yang ingin disampaikan, dikerjakan oleh institusi-institusi tersebut," katanya.

Ia juga menyoroti soal kemajuan teknologi komunikasi yang tidak selalu diikuti peningkatan pemahaman antarmanusia, sebab akses informasi yang semakin luas justru menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat dalam membedakan fakta, opini, manipulasi, dan kebohongan.

"'Artificial Intelligence' telah menghadirkan peluang luar biasa bagi peradaban manusia. Namun, AI juga meningkatkan kemampuan menciptakan disinformasi, 'deepfake', manipulasi persepsi, dan berita palsu dalam skala serta kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan," katanya.

Algoritma digital memungkinkan sebuah narasi menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan detik, namun kecepatan distribusi informasi tidak serta-merta menjamin kebenaran maupun tanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya.

"Kita membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional. Kita membutuhkan data dan teknologi, tetapi juga empati dan wisdom. Kita harus memahami persoalan lokal, tetapi tidak boleh kehilangan perspektif global," katanya.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI (Wamenkomdigi) Nezar Patria yang menjadi pembicara kunci pada KHI mengatakan perubahan teknologi juga telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.

Menurut dia, saat ini publik dapat mengakses informasi mengenai kebijakan, kinerja, maupun reputasi sebuah organisasi melalui teknologi pencarian berbasis AI, tanpa selalu berinteraksi langsung dengan sumber informasi tersebut.

"Sekarang ini kalau kita lihat kekuatan humas sebetulnya bagaimana kita memproduksi data-data itu menjadi data-data yang 'trusted'," katanya.

Namun, kata dia, saat ini publik tidak lagi mengakses data-data dari korporasi, dari lembaga, dari institusi yang langsung berhubungan dengan humas, melainkan lewat AI.

Menurut dia, perubahan tersebut membuat praktisi humas perlu memastikan informasi resmi organisasi tersedia secara baik, akurat, dan memiliki kredibilitas yang kuat.

KHI yang digelar pada 17-18 Oktober 2026 juga dihadiri oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, Sekretaris Umum Perhumas Benny Siga Butarbutar, dan Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani.