Jadi, LIMS sama sekali bukan radio ajaib yang memancarkan sinyal sendiri, bukan pula penyedot suara dari udara. Proses penyadapan yang sesungguhnya murni terjadi di dalam mesin dan kabel milik operator telekomunikasi seluler, sedangkan LIMS hanya bertugas mengatur administrasi pendaftarannya.
Inilah mitos terbesar yang harus diluruskan: LIMS tidak memiliki kecanggihan layaknya gawai milik James Bond. Secara teknologi, sistem ini justru sangat membosankan. Alat ini tidak perlu menyusup diam-diam ke ponsel, tidak butuh diletakkan di dekat rumah target, dan kemampuannya tidak akan tiba-tiba menjadi lebih hebat hanya karena ia ditaruh di rumah seorang pejabat.
Masyarakat juga sering keliru menyamakan LIMS dengan perangkat lunak peretas ganas seperti Pegasus buatan NSO Group dari Israel. Keduanya berada di arena teknologi yang sama sekali berbeda.
Pegasus adalah aplikasi jahat yang memang dirancang khusus untuk menjebol dan menyusup langsung ke dalam ponsel target. Dengan fitur canggih bernama zero-click, Pegasus bahkan bisa membobol ponsel pintar tanpa pemiliknya harus mengeklik tautan atau pesan apa pun.
Teknologi peretasan semacam ini harganya luar biasa mahal, sangat rumit, dan hanya menargetkan sasaran kelas atas yang spesifik. Ini jelas bukan bukti bahwa penyadapan ponsel bisa dilakukan sembarangan kepada masyarakat umum. Di sisi lain, LIMS bisa menyadap tanpa perlu menyentuh ponsel korban bukan karena ia pandai meretas, melainkan karena ia meminta datanya langsung secara legal lewat jalur resmi milik operator seluler.
Meski LIMS terkesan hanya sekadar layar aplikasi biasa, masyarakat harus tahu bahwa dampaknya sama sekali tidak bisa disepelekan. Layar sederhana ini menjadi penentu apakah identitas seseorang dimasukkan ke daftar sadap, berapa lama waktunya, dan ke mana datanya dikirim.