NADIKABAR.COM — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menghadapi pertanyaan yang lebih mendasar daripada sekadar berapa banyak makanan yang dibagikan setiap hari.

Apakah program itu perlu masuk ke dalam kurikulum pendidikan sebagaimana usulan yang disampaikan oleh Kepala BGN?

Gagasan tersebut memiliki tujuan yang dapat dipahami, yakni mengenalkan pentingnya gizi kepada anak sejak dini. Namun, ketika pelaksanaan MBG masih menjadi sorotan karena berbagai macam permasalahan, pemerintah perlu memastikan bahwa penambahan agenda ke sekolah memang diperlukan dan memberikan dampak serta manfaat yang sepadan.

Pendidikan gizi tentu penting. Anak-anak perlu memahami tentang makanan yang dibutuhkan tubuh, khususnya untuk kebutuhan pertumbuhan serta kecerdasan, juga tentang bagaimana hubungan antara pola makan dan kesehatan, serta pentingnya kebersihan, keamanan dan kehalalan pangan.

Persoalannya, kebutuhan itu tidak otomatis mengharuskan pemerintah membentuk mata pelajaran khusus tentang MBG. Jangan sampai niat baik memperbaiki pemahaman gizi justru menambah beban sekolah, sementara tujuan pembelajarannya sebenarnya dapat dicapai melalui kurikulum yang sudah ada.

Dari sisi pendidikan, gagasan memasukkan materi gizi ke dalam pembelajaran memiliki dasar yang kuat yakni diharapkan dapat menguatkan literasi gizi pada anak. Masa anak-anak merupakan periode penting bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan pembentukan kebiasaan makan. Pengetahuan tentang protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan kebutuhan air dapat membantu mereka memahami mengapa tubuh membutuhkan makanan yang beragam dan seimbang.

Pemahaman tersebut juga perlu mencakup keamanan dan kehalalan pangan. Makanan yang terlihat menarik belum tentu aman dan halal untuk dikonsumsi. Kontaminasi mikroorganisme patogen atau benda haram/najis dapat terjadi selama pengolahan, penyimpanan, maupun distribusi. Karena itu, anak perlu mengenali hubungan antara kualitas bahan makanan, kebersihan, cara pengolahan, dan kesehatan dalam konsep halal dan toyyib.

Materi ini dapat diajarkan melalui contoh yang dekat dengan kehidupan siswa. Anak sekolah dasar, misalnya, dapat belajar mengenali sumber protein dan membedakan jenis pangan. Siswa sekolah menengah dapat mempelajari komposisi zat gizi, membaca label pangan, memahami kebutuhan energi, hingga memeriksa kebenaran informasi kesehatan di media sosial.

Pembelajaran juga dapat mengangkat pangan lokal, kebiasaan makan keluarga, dan persoalan sampah makanan. Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak sekadar menghafal daftar makanan sehat, tetapi memahami alasan ilmiah di baliknya.

Namun, semua itu tidak harus dikemas menjadi mata pelajaran khusus MBG. Materi gizi dapat diintegrasikan ke dalam Ilmu Pengetahuan Alam, pendidikan kesehatan, dan kegiatan pembelajaran kontekstual.

Terkait kehalalan pangan juga dapat diintegrasikan dalam Pelajaran Pendidikan Agama. Pertanyaan yang perlu dijawab pemerintah bukan apakah pendidikan gizi dibutuhkan, melainkan apakah kurikulum baru merupakan cara paling efektif untuk memperkuatnya.

Kurikulum bukan ruang promosi program