Kemudian penerapan praktik pertanian yang baik dan pertanian regeneratif, pengembangan usaha alternatif, serta penyelarasan anggaran publik dengan investasi swasta yang berwawasan lingkungan.

Program ini didukung oleh Deutsche Gesellschaft for Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Proforest, serta sejumlah mitra internasional dan swasta.

"Sustain Kutim Tahap II diharapkan makin memperkuat daya saing sawit daerah di pasar global, sekaligus untuk memastikan manfaat ekonomi perkebunan dirasakan secara adil oleh masyarakat," ujarnya.

Pemkab Kutai Timur menargetkan investasi hilirisasi sawit senilai Rp3 triliun dengan mengandalkan potensi sekitar 500 ribu hektare kebun sawit, 38 pabrik CPO, serta Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan sebagai pusat pengembangan hilirisasi kelapa sawit.