NADIKABAR.COM — Aktivitas usaha dan konsumsi masyarakat terus menopang perekonomian nasional menjelang akhir 2026. Industri perbankan turut mendukung aktivitas tersebut melalui penyaluran pembiayaan bagi dunia usaha dan masyarakat, disertai penghimpunan dana untuk menopang pertumbuhan kredit.

Sejalan dengan peran tersebut, Bank Mandiri melanjutkan ekspansi kredit dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, menjaga kualitas aset, serta memperkuat pendanaan dan layanan transaksi. Hingga Oktober 2026, perseroan membukukan laba bersih secara bank only sebesar Rp46,5 triliun, tumbuh 19,6% secara tahunan (year on year/YoY). Capaian ini ditopang oleh pertumbuhan kredit yang berkualitas dan peningkatan pendapatan berbasis transaksi.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan penyaluran kredit tumbuh 16,5% YoY menjadi Rp1.635 triliun. Dengan mempertimbangkan prospek usaha dan profil risiko, Bank Mandiri menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif dan resilien, antara lain pemerintahan, energi dan air, logistik, industri pengolahan logam, serta makanan dan minuman. Ekspansi tersebut diiringi perbaikan kualitas aset.

Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross secara bank only turun menjadi 0,97% dari 1,02% pada Oktober 2025. Rasio NPL coverage mencapai 244,5%, sementara biaya risiko kredit atau cost of credit terjaga sebesar 0,55%.

"Pertumbuhan kredit kami jalankan dengan disiplin dalam memilih sektor dan menjaga kualitas pembiayaan. Didukung pendanaan yang kuat dan peningkatan aktivitas transaksi nasabah, pendekatan ini menjadi fondasi untuk menghasilkan kinerja yang konsisten sekaligus mendukung kegiatan ekonomi," ujar Novita Widya Anggraini dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11/2026).