NADIKABAR.COM — Masih bersikukuh dengan penilaian terakhirnya, penyedia indeks pasar saham internasional, MSCI (Morgan Stanley Capital International) tetap berencana menarik status pasar modal Indonesia ke level terbawah yaitu standalone market. Terkait kondisi ini, BEI bersama Pemerintah melakukan beberapa upaya untuk mengubah wacana tersebut.
Di tengah tekanan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto menyebut jika MSCI bukanlah satu-satunya lembaga rating yang penilaiannya perlu dipertimbangkan.
"Tentu MSCI kan itu salah satu rating, tetapi bukan satu-satunya. Jadi, kita ada rating yang lain, apakah itu FTSE, ada Russell dan yang lain yang tentu hasilnya berbeda," ujar Airlangga di Gedung AA Maramis, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026).
Airlangga, seperti dikutip dari NadiKabar, menyebutkan jika Indonesia tidak akan turun kasta dari Emerging Market ke Standalone. Ia berkaca dari berbagai usaha yang telah dilakukan sebelumnya, mulai dari membuka informasi kepemilikan saham hingga menaikkan Free Float di angka 15 persen.
Soal pernyataan Airlangga yang menyebut jika MSCI bukan satu-satunya pemberi rating yang perlu diperhatikan, Indonesia melakukan penjajakan dengan lembaga penyedia indeks saham global lain, FTSE Russell.
Berdialog secara daring dengan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik pada Jumat (23/10) lalu, FTSE Russell mempertahankan status pasar modal RI di Secondary Emerging Market. Jeffrey menjelaskan terkait perkembangan reformasi pasar modal yang telah dijalankan yang mencakup tiga aspek utama, yakni transparansi, likuiditas, dan pengawasan (surveillance).
"FTSE menyampaikan apresiasi atas apa yang sudah dilakukan di pasar modal Indonesia," ungkap Jeffrey dalam konferensi persnya di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Dalam situasi ini, Pemerintah juga tengah melakukan usaha lain dalam rangka menyelamatkan IHSG di mata investor dunia. Saat ini DPR tengah mendorong Indonesia untuk menyusun dan menentukan pemeringkatan pasar modalnya secara mandiri.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut baik gagasan tersebut. OJK juga mengaku akan berkoordinasi lebih lanjut terkait hal tersebut.
"Untuk hal yang spesifik seperti yang ditanyakan, nanti pada waktunya kami akan koordinasi lebih lanjut ya," ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, dikutip dari NadiKabar Senin (26/10/2026).
Lalu sejauh mana sebenarnya hasil penilaian mandiri Indonesia ini nantinya dapat diterima oleh investor asing? Simak ulasannya dalam Kabar Sore!
Menuju Deli Serdang Sumatera Utara, Kabar Sore akan mengulas soal penggerebekan gudang penyimpanan narkoba berkedok tempat pengolahan pinang. Atas operasi ini, polisi menyita ribuan ekstasi serta vape berisi kandungan narkoba. Dalam penggerebekan ini, polisi juga mengamankan bandar sekaligus pengelola gudang berinisial PS (34).
Apa saja hasil pengembangan kasus ini? Simak laporan Jurnalis NadiKabar selengkapnya.
Masih membahas berita dari daerah, kali ini Kabar Sore akan menuju Solo untuk melihat perkembangan sengketa utang sewa stadion Manahan oleh Persis Solo. mengutip NadiKabar, Komisi IV DPRD Kota Solo memanggil manajemen Persis Solo. Pemanggilan itu untuk meminta supaya tunggakan sewa Stadion Manahan yang nilainya miliaran rupiah segera dilunasi.
Suasana rapat sempat memanas ketika anggota Komisi IV, Roro Indradi Sarwo Indah, menggebrak meja sebagai bentuk kekecewaan. Pasalnya, pihak Laskar Sambernyawa yang hadir ialah perwakilan sekretariat yang dinilai tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan maupun memberikan kepastian waktu pembayaran.
Seperti apa cerita di balik sengketa ini? Simak laporan Jurnalis NadiKabar selengkapnya.
Ikuti berita-berita terbaru dari NadiKabar dalam Kabar Sore. Kabar Sore nggak cuma hore-hore!