NADIKABAR.COM — Dari seruan memilukan penuh kerinduan burung loon hingga pekikan melengking burung jalak bersayap merah, seluk-beluk kicauan burung telah diteliti mendalam. Para ilmuwan juga telah menyusun hipotesis tentang bagaimana kicauan ini berfungsi di dunia hewan.
Hipotesis Relung Akustik misalnya, menjelaskan bagaimana burung menyesuaikan kicauan dan frekuensi agar suaranya menonjol di antara kebisingan. Kicauan burung juga dapat memiliki aksen dan dialek spesifik pada suatu wilayah, dan kicauan yang sama ternyata mampu meredakan kecemasan serta paranoia manusia.
Namun, hanya sedikit penelitian mendalami cara kerja dari atribut kicauan burung yang bisa dibilang paling menonjol: amplitudo. Nah, penelitian baru di jurnal Evolution menganalisis kicauan burung di Massachusetts bagian barat serta di seluruh Brasil, dengan total 123 spesies.
Dari pengumpulan data, ahli ekologi perilaku University of Massachusetts Amherst, Jeffrey Podos, bersama mantan mahasiswa pascasarjananya, Joao C.T. Menezes, mendokumentasikan burung yang berkicau sangat pelan seperti kolibri petapa berleher gelap, hingga suara lantang burung lonceng berleher polos dan seriema berkaki merah.