Thotsapol Chaianunporn, asisten profesor di Departemen Ilmu Lingkungan Khon Kaen University, mengatakan situasinya sudah sulit dikembalikan seperti semula. "Kita sudah jauh melewati titik di mana kita bisa kembali seperti semula," ujarnya.
Dampak ikan invasif ini tidak berhenti pada hewan yang dimakannya. Blackchin tilapia juga memakan zooplankton, organisme mikroskopis yang berperan penting dalam ekosistem perairan. Zooplankton antara lain memakan alga sehingga membantu mengendalikan ledakan pertumbuhan alga. Jika jumlah zooplankton berkurang akibat tekanan dari ikan invasif, keseimbangan ekosistem perairan juga dapat berubah.
Perilaku reproduksi ikan ini turut menjadi perhatian. Betina menggali lubang di dasar berpasir untuk membuat tempat bersarang. Jika dilakukan oleh ribuan ikan secara bersamaan, aktivitas tersebut dapat meningkatkan sedimentasi dan mengganggu organisme yang hidup di dasar perairan.
"Ketika ribuan betina menggali lubang, hal itu akan memengaruhi invertebrata bentik, atau bahkan ikan yang ada di sana," kata Thotsapol seraya memperingatkan perubahan tersebut dapat memengaruhi proses fotosintesis tumbuhan bawah air.
Pemerintah Thailand telah mencoba sejumlah cara untuk menekan populasinya. Salah satunya dengan melepas ikan kakap putih Asia sebagai predator. Peneliti juga mengembangkan blackchin tilapia yang menghasilkan keturunan steril.
Masyarakat bahkan turut diberi insentif untuk menangkap ikan tersebut. Namun, para ahli menilai upaya membasmi seluruh populasinya hampir tidak mungkin dilakukan.
Karena itu, salah satu pendekatan yang dianggap lebih realistis adalah memanfaatkannya secara ekonomi. Ikan tersebut telah dicoba sebagai bahan pakan ternak, produk makanan fermentasi, hingga makanan untuk manusia.