Adisorn Jamsuksaward, pemilik restoran makanan laut di Samut Prakan, termasuk yang mencoba mengolahnya. "Awalnya orang-orang ragu, tetapi setelah mencobanya, mereka bilang rasanya enak," ujarnya.

Kasus di Thailand juga mendorong penggunaan teknologi untuk mendeteksi ikan invasif lebih awal. Salah satunya adalah environmental DNA (eDNA). Teknik ini memungkinkan peneliti mengambil sampel air kemudian mencari potongan DNA yang ditinggalkan organisme di lingkungan.

Dean Jerry, profesor bidang genetika akuakultur di James Cook University, mengatakan ikan termasuk hewan yang banyak melepaskan DNA ke lingkungan. "Ikan adalah pelepas (DNA) yang sangat besar. Sampel air menjadi semacam 'sup DNA' yang dapat dianalisis untuk mengetahui keberadaan spesies tertentu," " kata Jerry.

Teknologi seperti eDNA penting karena semakin cepat spesies invasif terdeteksi, semakin besar peluang populasinya dikendalikan sebelum menyebar luas.

Namun di Thailand, tantangannya sudah jauh lebih besar. Seorang nelayan sekaligus penjual jaring di Bangkok, Thanandon Charoenhiransaku, menggambarkan betapa melimpahnya ikan tersebut di wilayah perairan mereka.

"Ketika Anda melempar jaring tiga kali, Anda bisa dengan mudah mendapatkan 20 hingga 30 kg blackchin tilapia sebanyak itulah jumlahnya," katanya.

Kasus ini menjadi contoh bagaimana spesies asing yang sudah telanjur menetap dapat mengubah rantai makanan, habitat, dan kehidupan masyarakat. Ketika populasinya sudah mencapai jumlah besar, mengembalikan ekosistem ke kondisi semula bisa jauh lebih sulit dibandingkan mencegahnya sejak awal.