Meskipun belum diproduksi dalam skala industri secara berkelanjutan, Siti mengatakan pihaknya telah siap menerima pesanan berbagai produk yang dibutuhkan.
"Kami sudah bisa memproduksi berbagai produk dalam skala besar, tetapi memang belum kontinu. Sifatnya masih berdasarkan PO (purchase order). Untuk helm pesanan PTPN I, jumlahnya sudah cukup banyak. Begitu juga rompi antipeluru yang memenuhi standar Polri, sudah kami produksi dalam skala terbatas. Dalam konteks ini, kami membutuhkan dukungan pemerintah agar hasil penelitian ini dapat berkembang menjadi industri yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat," katanya.
Siti menambahkan, produk helm sawit yang dihasilkan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Demikian juga material antipeluru kaliber 9 x 19 mm telah memiliki sertifikat dari Dislitbang AD pada 2025. Selain itu, produk berbahan dasar serat tandan kosong kelapa sawit tersebut dikembangkan dengan pendekatan ramah lingkungan.
"Bahan yang kami olah menjadi berbagai produk ini merupakan komposit, lebih tepatnya green composite, karena berasal dari bahan nabati. Produk-produk tersebut telah melalui berbagai pengujian sesuai standar yang dipersyaratkan. Harganya juga lebih rendah dibandingkan komposit yang beredar di pasaran. Sebagai gambaran, helm untuk pembalap profesional menggunakan material komposit dan harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Sementara produk kami dengan spesifikasi yang setara bisa memiliki harga sekitar setengahnya," pungkasnya.