Edukasi di Rote Ndao juga tidak berhenti pada kebiasaan menabung. Para pelajar diingatkan mengenai berbagai risiko yang dapat muncul ketika mereka menggunakan uang tanpa pertimbangan, terutama di tengah kemudahan akses digital.

Sandi menyinggung penggunaan uang untuk top up game online secara berlebihan hingga judi online yang dapat mengganggu pengelolaan keuangan anak muda. Ia juga mengingatkan para pelajar agar tidak mudah tergoda berbagai penawaran investasi ilegal maupun pinjaman online.

Dalam pemaparannya, Sandi turut menjelaskan peran OJK yang memiliki fungsi mengatur, mengawasi, dan melindungi masyarakat sebagai konsumen sektor jasa keuangan.

"Otoritas Jasa Keuangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 itu dibentuk fungsinya itu ada tiga: mengatur, mengawasi, dan melindungi. Melindungi itu yang penting juga," kata Sandi.

Ia menekankan pentingnya memastikan uang disimpan melalui lembaga jasa keuangan yang resmi. Menurutnya, pemahaman tersebut perlu diberikan sejak sekolah agar para pelajar memiliki bekal ketika nantinya mulai menggunakan lebih banyak produk dan layanan keuangan.

Selain itu, Sandi mengatakan pelajar SMA merupakan kelompok yang perlu mendapatkan pemahaman tersebut karena mereka akan menjadi nasabah di masa mendatang.

"Dan adik-adik SMA ini adalah target nasabah masa depan yang harus dikasih masukan dan pegangan kepada mereka ketika memasuki dunia kuliah dan kerja, bagaimana mengelola keuangan dengan baik," ujarnya.

Menurut Sandi, literasi keuangan sejak dini juga membantu pelajar memahami bahwa uang tidak hanya digunakan untuk memenuhi keinginan, tetapi perlu direncanakan agar dapat menunjang kebutuhan dan masa depan.

Hal senada disampaikan Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk. Ia menilai kebiasaan menabung perlu dikenalkan kepada anak-anak sejak dini, salah satunya melalui uang jajan yang diberikan orang tua.

"Jadi seperti yang disampaikan tadi juga oleh berbagai narasumber bahwa dengan momentum ini, melalui kesempatan ini kami mengajak anak-anak di Rote Ndao untuk secara bijak menyisihkan mungkin yang diberikan uang jajan oleh orang tuanya, bisa disisihkan setiap hari atau setiap minggu, setiap bulan, menyisihkan sedikit dari uang jajan mereka untuk mulai belajar menabung," kata Paulus.

Menurutnya, kebiasaan tersebut bukan sekadar mengajarkan anak menyimpan uang, tetapi juga melatih mereka bertanggung jawab terhadap keuangan sejak usia sekolah.

Edukasi keuangan yang berlangsung di Rote Ndao menjadi bagian dari gerakan yang melibatkan pelajar dari 22 kabupaten/kota di NTT. Kegiatan digelar secara luring dan daring untuk mendorong perluasan literasi sekaligus inklusi keuangan di wilayah tersebut.

Salah satu program yang didorong dalam momentum tersebut adalah Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR). Program ini diarahkan untuk membangun kebiasaan menabung di kalangan pelajar dengan mendorong setiap siswa memiliki rekening tabungan sejak dini.

Di NTT, rekening yang digunakan tim redaksi lain Simpanan Pelajar (SimPel), sehingga pelajar tidak hanya dikenalkan dengan aktivitas menabung, tetapi juga mulai memiliki pengalaman menggunakan layanan keuangan formal.