Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan peningkatan akses terhadap layanan keuangan perlu dilakukan secara merata, termasuk bagi masyarakat yang berada di wilayah kepulauan dan daerah yang jauh dari pusat perkotaan.

"Program KEJAR ini tidak boleh berhenti setelah rekening dibuka. Setelah kegiatan ini selesai, pekerjaan kita justru terus berjalan untuk membangun kebiasaan menabung dari anak-anak kita," kata Melki dalam sambutannya.

Ia menilai pembukaan rekening bukan menjadi tujuan akhir. Rekening yang telah dimiliki pelajar perlu digunakan secara aktif sehingga kebiasaan menabung benar-benar terbentuk dalam kehidupan sehari-hari.

Momentum tersebut sekaligus mencatatkan capaian besar bagi NTT. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan, pembukaan rekening SimPel secara serentak mencapai 220.194 rekening dan berhasil mencatatkan Rekor MURI pembukaan rekening SimPel secara serentak terbanyak.

Capaian tersebut mengalahkan rekor yang sebelumnya telah bertahan sekitar 10 tahun dan menjadi penanda gerakan menabung yang melibatkan pelajar di seluruh NTT.

Bagi pemerintah daerah, capaian itu bukan sekadar mengejar jumlah rekening yang dibuka. Setelah rekening dimiliki, tantangan berikutnya adalah memastikan rekening tersebut tetap aktif dan diisi secara rutin oleh para pelajar.

Melki pun menegaskan bahwa rekor tersebut bukan tujuan akhir dari Program KEJAR.

"Saya menegaskan bahwa rekor ini bukan tujuan akhir. Rekor ini adalah penanda bahwa kita mampu bergerak bersama dalam skala besar. Rekor selesai, tapi yang jauh lebih penting adalah membuat rekening yang telah dibuka tetap aktif, anak-anak kita terus menabung, dan program ini kita bangun melalui pendampingan yang berkelanjutan."

Dengan demikian, rangkaian HIM 2026 di Rote Ndao tidak berhenti pada seremoni pembukaan rekening. Edukasi yang diberikan kepada pelajar menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan finansial sejak usia sekolah, mulai dari menyisihkan uang jajan, mengenal tabungan, hingga memahami risiko penggunaan layanan keuangan di ruang digital.

Pemahaman sederhana itu mulai ditangkap oleh para siswa yang mengikuti edukasi. Salah satunya Sidensi Miangada, siswa kelas 10B SMA Negeri 1 Rote Selatan. Ia mengaku biasanya membawa uang saku Rp 5.000 ke sekolah dan menggunakannya untuk membeli jajanan di kantin.

Setelah mengikuti sosialisasi, Sidensi mendapat gambaran baru mengenai cara membagi uang yang dimiliki tim redaksi kebutuhan dan simpanan.

"Bagaimana cara supaya kita mendapatkan uang, dan misalnya ada dapat Rp 50.000, kita bisa membagi 20% sebagai simpanan, dan yang lain bisa kita gunakan untuk keperluan kita. Lebih mementingkan keperluan daripada keinginan," kata Sidensi. Bagi para pelajar di Rote Selatan, literasi keuangan pun diperkenalkan melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan mereka. Sebab, kemampuan mengelola uang bukan hanya tentang seberapa banyak yang dapat ditabung, tetapi juga bagaimana mengambil keputusan terhadap uang yang dimiliki dan membedakan kebutuhan dari keinginan.

Dari uang saku yang diterima sehari-hari, kebiasaan tersebut dapat mulai dibangun sedikit demi sedikit untuk menjadi bekal ketika para pelajar kelak mengelola keuangannya secara mandiri.