Pendapatan konsolidasian ABMM pada periode tersebut mencapai US$818,5 juta, tumbuh 4,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, last twelve months (LTM) adjusted EBITDA melonjak 42,4 persen secara tahunan menjadi US$399,9 juta.
Perseroan menyebut peningkatan laba tersebut terutama didorong oleh kinerja bisnis kontraktor pertambangan.
Sebelumnya, pada semester I 2026, ABM Investama membukukan laba bersih sebesar US$39,4 juta. Angka tersebut meningkat 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$27,7 juta.
Sementara itu, pendapatan konsolidasian tercatat sebesar US$506,2 juta atau turun tipis 0,1 persen dibandingkan US$506,9 juta pada semester I 2025.
Adapun adjusted EBITDA meningkat 6,4 persen menjadi US$346,9 juta dari sebelumnya US$326 juta.
Dari sisi operasional, volume coal getting atau pengambilan batu bara meningkat 14 persen menjadi 17,9 juta ton pada semester I 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, volumenya tercatat sebesar 15,7 juta ton.
Namun, volume overburden removal atau pemindahan lapisan tanah penutup turun 12,7 persen menjadi 98 juta bank cubic meter (bcm) dari 112,2 juta bcm.