NADIKABAR.COM — Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memperkirakan konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk Selat Hormuz, belum akan berakhir dalam waktu dekat. Perkiraan tersebut didasarkan pada berbagai informasi terbuka yang dipelajarinya.

Meski berharap konflik segera mereda, pemerintah tetap perlu mengantisipasi skenario terburuk apabila ketegangan berlangsung berkepanjangan.

"Keadaan Timur Tengah sekarang ini ya, Hormuz, dari open source dan semua yang kita lihat, kita tidak melihat ada harapan untuk segera berdamai dalam 2-3 tahun ke depan," kata Luhut dalam konferensi pers di kantor DEN, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2026).

Menurutnya, konflik yang berkepanjangan berpotensi mempertahankan harga minyak pada level tinggi. Oleh karena itu, pemerintah perlu memperhitungkan dampaknya terhadap kondisi perekonomian.

"Ya kita berharap lebih cepat, tapi kita membuat worst case scenario, kalau itu terjadi, maka harga minyak itu tetap akan tinggi," ujarnya.

Di sisi lain, ketidakpastian keamanan di Timur Tengah membuat sejumlah pemilik modal mulai mencari negara lain untuk menempatkan dananya. Luhut menyebut Indonesia menjadi salah satu tujuan yang dipertimbangkan, khususnya Bali.

Ia mengaku telah bertemu dengan sejumlah investor Timur Tengah yang tertarik membawa dananya ke Indonesia. Namun, mereka masih mempertanyakan kepastian hukum sebelum mengambil keputusan investasi.

"Padahal mereka sudah banyak sekali yang ketemu saya, orang-orang yang punya uang banyak, baik orang Timur Tengah sendiri, mereka pengin mempertimbangkan untuk serius masuk di Indonesia, dan mereka spesifik menjelaskan Bali," jelasnya.

Luhut menilai peluang tersebut perlu segera dimanfaatkan. Sebab, investor berpotensi memilih negara lain apabila Indonesia tidak mampu memberikan kepastian hukum.

"Nah ini balik lagi, kita kepastian hukum. Orang tadi yang tidak nyaman di Timur Tengah karena perang antara satu negara dengan negara lain, dia mencari tempat di mana yang paling aman untuk taruh duitnya," tutup Luhut.