Beberapa minggu setelah rilis ChatGPT November 2022, Shinn menanggapi unggahan LinkedIn profesor MIT saat itu, Ashwin Gopinath, yang mencari mahasiswa untuk bereksperimen dengan AI. Tiga bulan berikutnya, mereka bersama peneliti lain mengembangkan Reflexion, kerangka kerja yang membantu agen AI belajar dari kegagalan dan menyempurnakan respons selanjutnya.

Hasil kerja mereka mencapai akurasi 91% pada tolok ukur pengodean dibanding akurasi GPT-4 yang saat itu di angka 80%. "Sejak itu banyak pihak menciptakannya kembali, tapi teknik dasarnya bersumber pada makalah yang ditulis mahasiswa tahun kedua pada 2023," ujar profesor ilmu komputer Northeastern, Arjun Guha.

Di 2023, Shinn berhenti kuliah dan menjadi salah satu karyawan pertama di Sierra, startup AI yang turut didirikan pimpinan OpenAI sekaligus mantan co-CEO Salesforce, Bret Taylor.

Ia jadi peneliti AI yang menangani sebagian besar produk inti Sierra, sembari terus menjadi rekan penulis berbagai makalah penelitian mengenai kemampuan agen AI dalam mengikuti instruksi, menggunakan software, dan menulis kode.

Shinn meninggalkan Sierra September 2025 dan mendirikan Instinct bulan berikutnya. Startup ini awalnya bergerak diam-diam. Asisten AI pribadinya mulai menjalani pengujian beta tertutup Februari tahun ini, sebelum dapat diakses terbatas melalui undangan pada Agustus.

Beberapa pengguna awalnya adalah pemodal ventura, yang membantu produk ini menyebar di kawasan Silicon Valley dari mulut ke mulut. Berbeda dari chatbot konvensional yang fungsi utamanya menjawab pertanyaan, Instinct dirancang mengeksekusi tugas atas nama penggunanya.

Orang dapat mengirim teks atau meneleponnya dan memintanya merencanakan perjalanan, membeli bahan makanan, memesan tiket, atau membatalkan langganan. Bahkan, ada juga pengguna yang memanfaatkannya untuk merencanakan pernikahan.