Untuk pengambilalihan operasi dalam skala besar, Malaysia Airlines dan Batik Air menyampaikan bahwa mereka juga perlu mengambil alih sewa pesawat AirAsia. Pasalnya, menampung rute dan jumlah penumpang AirAsia tanpa tambahan armada akan jauh lebih sulit.

"Kami mampu mendatangkan pesawat dengan cepat untuk menyerap atau membantu memenuhi pangsa pasar domestik apabila diperlukan," ujarCEO Batik Air Malaysia, Chandran Rama Muthy dikutip dari Reuters, Kamis (17/9/2026).

Tekanan keuangan AirAsia tim redaksi lain datang dari lonjakan harga bahan bakar pesawat. Harga avtur disebut melonjak 66% pada kuartal II dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi rata-rata US$ 183 per barel akibat perang AS-Israel dengan Iran.

AirAsia membukukan rugi bersih sebesar 831 juta ringgit pada kuartal II-2026. Selain kenaikan biaya bahan bakar, perusahaan menanggung kerugian selisih kurs sebesar 331 juta ringgit.