Per 30 Juni, AirAsia memiliki kewajiban jangka pendek sebesar 18,4 miliar ringgit atau sekitar US$ 4,51 miliar. Menurut sumber, maskapai tersebut juga memiliki kewajiban sedikitnya 500 juta ringgit kepada MAHB untuk layanan seperti biaya pendaratan dan parkir pesawat.

Di sisi lain, kas dan saldo bank AirAsia tercatat sebesar 954 juta ringgit per akhir Juni. AirAsia kini tengah mencari pendanaan hingga US$ 1 miliar dari pasar utang internasional ditambah fasilitas kredit domestik sebesar 700 juta ringgit, terutama untuk merestrukturisasi utang.

Sebanyak dua sumber memperkirakan AirAsia membutuhkan setidaknya US$ 3 miliar modal baru untuk memperbaiki posisi keuangannya. AirAsia membantah bahwa kebutuhan pendanaannya sebesar itu dan menyatakan target pembiayaan yang sedang dikejar telah mencukupi kebutuhan perusahaan.