NADIKABAR.COM — Malaysia menilai serbuan berkali-kali oleh Israel ke Kompleks Masjid Al-Aqsa bertujuan mengubah identitas dan karakter situs suci umat Muslim tersebut.
"Tindakan-tindakan ini bukan sekadar provokasi yang berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari upaya berkelanjutan rezim Zionis Israel untuk mengubah identitas dan karakter Masjid Al-Aqsa serta Yerusalem Timur yang diduduki," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Malaysia (Wisma Putra), di Kuala Lumpur, Rabu.
Malaysia menyatakan mengecam sekeras-kerasnya penyerbuan terbaru ke Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, yang diduduki oleh lebih dari seribu pemukim ilegal Israel dan pejabat senior rezim yang dipimpin oleh Menteri Keamanan Nasional rezim Israel di bawah perlindungan tentara Israel pada 28 September 2026.
Malaysia menyatakan tindakan penyerbuan yang berulang kali dilakukan oleh pemukim ilegal Israel serta pejabat senior rezim tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional serta status quo historis dan hukum yang mengatur Yerusalem Timur dan Al-Haram Al-Sharif.
Malaysia menolak sekeras-kerasnya segala upaya semacam tersebut dan menegaskan bahwa kesucian Al-Haram Al-Sharif serta hak beragama para jamaah Muslim harus dihormati dan dilindungi.
Malaysia mendesak masyarakat internasional, khususnya Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, agar mengambil tindakan segera dan konkret untuk memaksa rezim Zionis Israel segera menghentikan pelanggaran serius yang disengaja dan terang-terangan tersebut.
Menurut Malaysia, Rezim Israel harus dimintai pertanggungjawaban atas upayanya yang terus-menerus untuk merusak status quo historis dan hukum di Al-Haram Al-Sharif.
Malaysia juga menegaskan solidaritas terhadap rakyat Palestina, mencakup hak untuk menentukan nasib sendiri, serta pembentukan Negara Palestina merdeka dan berdaulat berdasarkan perbatasan sebelum 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.