Pada Mei 2026, Ketua Komisi XII DPR RI kala itu, Bambang Patijaya, pernah menyatakan dukungannya terhadap inisiatif pemerintah melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menawarkan Indonesia sebagai pusat penyimpanan cadangan minyak kawasan ASEAN.
"Indonesia memiliki keunggulan geografis yang sangat penting, terutama karena berada di jalur perdagangan energi dunia. Ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat peran strategisnya dalam sistem ketahanan energi kawasan ASEAN," ujar Bambang.
Ia menilai situasi geopolitik global yang dinamis menuntut negara-negara ASEAN memiliki sistem cadangan energi yang solid dan terintegrasi.
Menurut dia, rencana pembangunan fasilitas storage minyak di Sumatera tidak hanya memperkuat cadangan nasional, tetapi juga memicu pertumbuhan ekosistem industri logistik dan menarik investasi strategis ke Tanah Air
Upaya membangun ketahanan energi kawasan yang solid tersebut pada akhirnya membutuhkan kepemimpinan dan kolaborasi erat dari para pelaku industri energi di Asia Tenggara.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menekankan ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan keberlanjutan bagi generasi mendatang.
"Di sektor energi, ketahanan berarti memastikan bahwa sistem yang kita andalkan saat ini mampu terus memenuhi kebutuhan masyarakat, mendukung perekonomian, dan melayani generasi mendatang," ujar Simon dalam agenda 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) yang mengusung tema Strengthening Resilience Through Collaboration di Sanur, Bali, Senin (26/10), dikutip dari siaran pers
Dalam kesempatan tersebut, Simon juga mengangkat tema Nusantara in Harmony untuk menekankan pentingnya kerja sama di tengah keberagaman negara-negara ASEAN. Menurutnya, kolaborasi layaknya orkestra, di mana setiap instrumen memiliki peran berbeda, tetapi saling melengkapi untuk menghasilkan harmoni.
"Hal yang sama berlaku bagi komunitas energi regional kita. Kekuatan kita bukan terletak pada upaya menjadikan setiap negara sama, melainkan pada kemampuan untuk mendorong setiap negara menyumbangkan keunggulan dan kapasitas uniknya demi mencapai tujuan bersama," jelas Simon.