"Mereka datang untuk menghasilkan uang. Mereka melihat lahan yang subur, mereka melihat skala usaha yang besar, lalu mengajukan izin untuk berinvestasi," tulisnya.

Lutfi juga menyoroti pembagian manfaat ekonomi dan risiko lingkungan dari industri sawit lintas negara. Menurut dia, perkebunan dan risiko lingkungan berada di Indonesia, sementara minyak sawit mentah dikirim ke Malaysia untuk diolah sebelum dipasarkan ke Eropa.

Mendag era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Jokowi itu menyebut kelompok usaha Malaysia juga memiliki kilang pengolahan di Eropa dan membukukan keuntungan di kantor pusat mereka di Kuala Lumpur.

Atas dasar itu, Lutfi mempertanyakan desakan agar bank-bank Malaysia menghentikan pembiayaan ke Indonesia. Menurut dia, bank Malaysia juga membiayai perusahaan-perusahaan Malaysia yang membeli aset perkebunan di Indonesia.

Ia turut menyinggung laporan Greenpeace pada 5 Oktober yang, menurut unggahannya, menemukan titik panas kebakaran di dalam konsesi Indonesia milik perusahaan Malaysia, termasuk KL Kepong.