NADIKABAR.COM — Kasur, mebel, dan berbagai perabot rumah tangga lainnya menjadi bagian dari kebutuhan kita. Namun, ketika barang-barang tersebut rusak atau tidak lagi digunakan, kita kerap menghadapi persoalan: ke mana harus membuangnya?
Sampah berukuran besar tidak selalu bisa diangkut oleh layanan kebersihan rumah tangga biasa. Akibatnya, sebagian warga kesulitan membuang barang bekas tersebut. Tidak sedikit pula yang akhirnya membuangnya ke sungai sehingga mencemari lingkungan.
Di Kota Yogyakarta, persoalan itu dijawab melalui layanan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos). Program yang diinisiasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat itu menyediakan layanan pengangkutan gratis bagi warga, sekaligus membuka peluang agar sampah yang masih dapat dimanfaatkan diolah kembali menjadi barang berguna.
Mas Jos adalah tim reaksi cepat (TRC) yang dibentuk untuk membantu masyarakat menangani sampah berukuran besar yang sulit diangkut melalui layanan kebersihan biasa.
Kepala DLH Kota Yogyakarta Rajwan Taufiq mengatakan gagasan pembentukan layanan tersebut berawal dari temuan sampah rumah tangga berukuran besar di sungai. Sampah seperti kasur, bantal, dan mebel tidak dapat dibawa oleh pengangkut (transporter) sampah yang biasa melayani masyarakat.
"Awalnya di sungai, kita temukan sampah-sampah rumah tangga besar yang tidak bisa diangkut oleh transporter sampah. Waktu itu sampah terbanyak seperti kasur, bantal, mebel dan sebagainya," kata Rajwan.
Melalui Mas Jos, masyarakat dapat mengajukan permohonan agar sampah berukuran besar dijemput petugas. Dalam penanganannya, DLH bekerja sama dengan pihak ketiga atau mitra pengolah sampah (offtaker) untuk mendaur ulang barang yang masih dapat dimanfaatkan.