NADIKABAR.COM β Dari hamparan kebun teh di Ciwidey, Kabupaten Bandung, pucuk-pucuk daun yang dipetik petani biasanya mengawali perjalanan menuju pabrik pengolahan.
Namun, sebagian daun teh dari kawasan tersebut kini menempuh jalur berbeda sebelum berubah menjadi bubuk matcha bernilai tambah.
Perubahan itu menjadi bagian dari perjalanan usaha Rizal Firdaus Rayfasha melalui IndoMatcha. Berbekal potensi perkebunan teh di daerahnya, ia mengembangkan produk yang dikenal sebagai minuman khas Jepang, tetapi bahan bakunya dapat diolah dari teh lokal.
Rizal telah mengenal usaha teh keluarganya sejak lama. Usaha itu mulai berjalan sekitar 2011β2012, kemudian ia ikut terlibat pada 2014. Pada 2017, ia mulai mengembangkan matcha dengan kapasitas produksi sekitar 5β10 kilogram per bulan.
βKenapa enggak matcha lokal saya dikembangkan lebih besar?β kata Rizalnya.
Peluang itu semakin terbuka ketika pasokan bahan baku dari Jepang menghadapi tantangan. Pada 2022β2023, permintaan matcha meningkat, sementara pasokan semakin sulit diperoleh dan harganya terus naik.
βBahan bakunya susah dari Jepang, harganya terus-terusan naik,β ujarnya.
Situasi tersebut membuka ruang bagi produk lokal. Rizal kemudian mengembangkan pengolahan dengan memanfaatkan pasokan daun teh dari petani dan pemasok di sekitar Ciwidey. Dari sana, pucuk teh yang semula dipasarkan sebagai bahan baku industri diarahkan menjadi produk dengan karakter dan nilai ekonomi berbeda.
IndoMatcha tidak memiliki perkebunan sendiri. Bahan baku diperoleh dari kebun masyarakat dan pemasok di sekitar Ciwidey. Karena itu, kualitas produk ditentukan bukan hanya oleh proses pengolahan, tetapi juga kondisi tanaman, pemetikan, dan penanganan daun sejak dari kebun.
Salah satu proses yang diterapkan ialah peneduhan tanaman sekitar 12 hari sebelum pemetikan. Teh yang digunakan berasal dari varietas assamica dan sinensis, yang memiliki karakter berbeda sesuai kebutuhan produk akhir.
Hubungan dengan petani menjadi bagian penting rantai pasok usaha tersebut. Menurut Rizal, pabrik besar umumnya membeli pucuk teh Rp2.500βRp3.000 per kilogram. IndoMatcha membelinya Rp4.000βRp10.000 per kilogram. Untuk kategori special tea, harga dapat mencapai Rp12.000 per kilogram.
Selisih harga tersebut menunjukkan peluang peningkatan nilai bahan baku di tingkat hulu. Meski belum menggambarkan kenaikan pendapatan seluruh petani pemasok, pola pembelian itu memperlihatkan bahwa kualitas pucuk dapat membuka pilihan pasar dengan harga berbeda.