NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i mengatakan materi edukasi dan mitigasi bencana akan dimasukkan ke dalam kurikulum madrasah dan pondok pesantren di seluruh Indonesia.

“Perlu kita tanamkan literasi kebencanaan sejak dini, agar santri bukan hanya paham teori, tetapi memiliki naluri kesiapsiagaan dan keterampilan dalam menyelamatkan diri maupun sesama,” ujar Wamenag dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Pernyataan Wamenag itu disampaikan saat meninjau pameran karya riset kebencanaan santri di Dayah/Pesantren Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) di Aceh Besar.

Romo Syafi’i menegaskan integrasi kurikulum mitigasi bencana merupakan langkah penting dan mendesak bagi ekosistem pendidikan keagamaan.

Menurut dia, bentang geografis Indonesia yang dinamis mendorong pentingnya lembaga pendidikan Islam untuk membekali para santri dengan kesiapsiagaan, pemahaman lingkungan, dan keterampilan penyelamatan diri secara terstruktur sejak dini.

“Kita rancang integrasi kurikulum ini agar madrasah dan pesantren punya kesiapan yang baik dalam menanggulangi bencana. Ini sejalan dengan agenda kita di kementerian untuk terus memperkuat edukasi keselamatan bagi anak-anak didik,” ujarnya.

Rencana penguatan kurikulum kebencanaan ini juga sejalan dengan inisiatif Kementerian Agama yang baru saja membentuk tim koordinasi penanganan darurat bernama Kemenag Peduli.

Tim ini tidak hanya berfokus pada respons cepat ketika bencana terjadi, melainkan juga mendukung langkah-langkah preventif serta edukatif di lingkungan satuan pendidikan agama.

Lebih lanjut Wamenag mendorong pembaharuan cara pandang kurikulum di madrasah dan pesantren dengan menghapus dikotomi lama antara ilmu umum dan ilmu agama.

Bagi Romo, ilmu-ilmu sains seperti geologi kebencanaan, matematika, fisika, kimia, dan biologi pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pendidikan keagamaan yang memperkuat pemahaman atas ciptaan Tuhan.

“Jangan lagi ada sekat 'ini ilmu umum, ini ilmu agama'. Kimia, biologi, matematika, maupun sains kebencanaan hakikatnya adalah bagian dari pendidikan agama. Santri yang sedang mendalami ilmu apa pun sesungguhnya tengah menjalankan proses pendidikan Islam,” katanya.