NADIKABAR.COM — Indonesia kini berada di persimpangan sejarah yang amat krusial. Jendela bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya hingga dekade ini membuka peluang emas untuk melompat menjadi negara maju pada saat usia kemerdekaan genap satu abad melalui Visi Indonesia Emas 2045.

Namun, melimpahnya populasi usia produktif tidak secara otomatis berbuah kesejahteraan jika tidak ditopang oleh kualitas modal manusia yang mumpuni. Realita di lapangan menunjukkan bahwa persoalan gizi buruk, stunting, hingga minimnya kecukupan asupan energi anak sekolah masih menjadi tantangan nyata yang menghambat potensi fisik dan kecerdasan generasi muda Indonesia.

Lahirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah di bawah naungan Badan Gizi Nasional (BGN) membawa arah baru dalam pembangunan nasional bangsa ini. MBG tidak boleh dipandang secara sempit sebagai program bantuan sosial yang bersifat konsumtif atau sekadar pembagian makanan harian.

Secara mendasar, program ini merupakan bentuk investasi publik strategis (public investment in human capital) yang sangat fundamental. Mengacu pada pemikiran ekonomi modal manusia jadul ala Becker (1964) dan Schultz (1961), pengeluaran negara untuk kesehatan dan gizi anak adalah bentuk akumulasi modal manusia yang memberikan tingkat imbal hasil (rate of return) sangat tinggi bagi produktivitas dan daya saing bangsa di masa depan.

Secara fisiologis, pemenuhan gizi adalah prasyarat paling awal sebelum proses pembelajaran di sekolah dapat berlangsung secara optimal. Ketika seorang anak hadir di kelas dalam keadaan lapar atau kekurangan zat gizi mikro, fungsi kognitif otak akan terganggu akibat penurunan kadar gula darah dan kelelahan mental.