Kinerja tersebut ditopang bisnis nikel dan emas. Merdeka Battery Materials (MBMA) masih menjadi penyumbang EBITDA terbesar, seiring kenaikan volume dan harga bijih nikel.
Kontribusi juga berasal dari High-Grade Nickel Matte (HGNM), yang mencatat pertumbuhan penjualan 72% secara tahunan, serta produk Nickel Pig Iron (NPI) dan asam.
Produksi bijih nikel Grup Merdeka pada semester I 2026 mencapai 15,20 juta wmt, naik 121% secara tahunan. Sementara produksi emas Grup meningkat 32% menjadi 66.814 ons.
Untuk paruh kedua 2026, MDKA akan memasuki sejumlah tahapan pengembangan proyek. Perseroan menargetkan peningkatan produksi dari Tambang Emas Pani serta memulai produksi HPAL Sulawesi Nickel Cobalt. Selain itu, proyek Tembaga Tujuh Bukit telah memasuki tahap feasibility study.
ANTM telah merealisasikan pembelian 9 ton emas dari PT Freeport Indonesia (PTFI) sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Pembelian tersebut merupakan bagian dari perjanjian pasokan dengan kapasitas hingga 30 ton emas per tahun. Emas yang dipasok memiliki kemurnian 99,99% dan berasal dari fasilitas Precious Metals Refinery milik PTFI di Gresik.
Pasokan tersebut menjadi bagian dari upaya ANTM memenuhi kebutuhan bahan baku untuk bisnis emasnya. Pada semester I 2026, penjualan emas ANTM mencapai Rp50,39 triliun, naik 1,43% dari Rp49,68 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan emas tersebut menyumbang sekitar 80% dari total penjualan bersih ANTM yang mencapai Rp62,71 triliun. Sementara itu, produksi emas dari tambang milik perseroan tercatat 433 kg sehingga pasokan dari pihak ketiga menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan bahan baku.
Selain memperkuat pasokan, ANTM juga mengembangkan bisnis hilir emas melalui pembangunan Pabrik Manufaktur Logam Mulia Gresik. Fasilitas yang seluruh kepemilikannya berada di tangan ANTM tersebut dirancang memiliki kapasitas sekitar 30 ton emas dengan kemurnian 99,99% per tahun.
Proyek tersebut memiliki estimasi investasi sekitar Rp1,10 triliun dan saat ini masih berada dalam tahap pra-konstruksi.