"Kita menjalani seluruh hidup di dalam medan magnet Bumi. Medan ini melewati tubuh kita, sel-sel kita, dan setiap organisme hidup di planet ini, tetapi kita ternyata hanya tahu sedikit tentang apakah dan bagaimana gaya tak kasatmata ini memengaruhi cara kerja sel kita," kata Lisa Chakrabarti, peneliti senior dalam studi tersebut, dikutip dari The Brighter Side News.
Hasil paling menarik muncul pada lalat yang membawa mutasi Pink1. Ketika lalat tersebut ditempatkan dalam kondisi medan magnet sangat lemah selama 20 hari, risiko kematiannya turun sekitar setengah dibandingkan lalat mutan yang tetap berada dalam medan magnet Bumi normal.
Secara keseluruhan, peneliti melaporkan adanya peningkatan masa hidup sekitar 20% pada kelompok lalat mutan tersebut. Namun, hidup lebih lama tidak berarti semua indikator kesehatan membaik.
Lalat mutan yang berada dalam medan magnet sangat lemah justru mengalami penurunan kemampuan memanjat pada sejumlah usia pengamatan. Dengan kata lain, mereka bertahan hidup lebih lama, tetapi performa fisiknya memburuk.
Respons lalat normal bahkan berbeda. Paparan medan magnet yang sangat lemah meningkatkan kemampuan memanjat pada beberapa usia pengamatan, sementara perubahan risiko kematiannya tidak terbukti signifikan secara statistik.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh medan magnet tidak sederhana. Efeknya dapat bergantung pada kondisi biologis organisme. Lalu, apa hubungannya medan magnet dengan penuaan?
Peneliti melihat ke mitokondria, organel yang berfungsi menghasilkan sebagian besar energi yang dapat digunakan sel. Dalam eksperimen, kondisi medan magnet sangat lemah meningkatkan aktivitas kompleks II pada mitokondria lalat normal. Kompleks II merupakan bagian dari sistem transport elektron sekaligus berperan dalam siklus asam sitrat.
Peneliti menduga perubahan tersebut merupakan respons sel terhadap tekanan lingkungan. Pada lalat dengan mutasi Pink1, perubahan metabolisme melalui kompleks II berpotensi membantu mengompensasi sebagian gangguan pada fungsi mitokondria. Namun, peneliti menegaskan bahwa mekanisme tersebut masih berupa hipotesis, bukan mekanisme terapi yang sudah terbukti.