NADIKABAR.COM — Keberhasilan transformasi Polri tidak boleh berhenti pada berapa banyak operasi yang dilakukan, perkara yang ditangani, atau aplikasi yang diluncurkan.
Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah masyarakat benar-benar menjadi lebih aman, memperoleh keadilan, dan merasakan kehadiran negara ketika membutuhkan perlindungan dan pengayoman.
Inilah tantangan penting yang diletakkan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto melalui visi "Polisi Bersama Masyarakat".
Dalam paparannya di hadapan Komisi III DPR RI pada 1 Oktober, Kapolri menegaskan keberhasilan Polri tidak selalu diukur dari banyaknya kegiatan ataupun publikasi, melainkan dari keamanan masyarakat, kemudahan pelaporan, kecepatan pertolongan, kepastian perkara, perlindungan korban, serta keadilan hukum.
Pernyataan ini mengandung pesan mendasar bahwa transformasi Polri harus mengubah orientasi dari melaporkan kegiatan kepolisian menjadi membuktikan hasil yang dirasakan masyarakat. Ini tidak mudah untuk mengukurnya. Bukan lagi mengukur output kegiatan, tetapi dampak yang dirasakan oleh masyarakat dalam hal keamanan dan ketertiban.
Reposisi paradigmatik ini relevan mengingat tantangan keamanan juga semakin kompleks di berbagai tingkatan. Pada tingkat global, perkembangan geopolitik, teknologi disruptif, dan kejahatan siber menuntut institusi kepolisian yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi serta mampu bekerja lintas sektor dan yurisdiksi.
Pada tingkat regional, kejahatan yang bersifat lintas batas seperti narkotika, penyelundupan, perdagangan orang, dan kejahatan terorganisasi membutuhkan strategi yang tidak berhenti pada penangkapan pelaku lapangan, tetapi juga memutus jaringan dan melindungi korban.
Sementara itu, pada tingkat domestik, polarisasi, intoleransi, ekonomi ilegal, bencana, serta persoalan internal kepolisian menguji kemampuan negara untuk memberikan perlindungan secara adil dan konsisten kepada warganya.
Ketiga lapisan tantangan ini membutuhkan respons yang berbeda, tetapi memiliki satu ukuran keberhasilan yang sama, yakni sejauh mana kerja kepolisian menghasilkan perubahan nyata yang dirasakan oleh masyarakat dalam keseharian mereka.
Masalahnya bukan hanya bagaimana polisi bekerja, tetapi bagaimana polisi memahami perubahan masyarakat. Masyarakat sekarang sudah berubah. Cara mereka mendapatkan informasi berubah, cara menyampaikan kritik berubah, ekspektasi terhadap pelayanan negara juga berubah. Transformasi Polri dituntut untuk mampu menjawab berbagai persoalan tersebut.
Karena itu, enam program prioritas transformasi yang disampaikan Kapolri patut dibaca sebagai bagian dari upaya untuk menghubungkan kerja pembenahan organisasi dengan hasil yang diharapkan publik secara luas.