NADIKABAR.COM — Di saat ribuan warga Palembang, Sumatera Selatan, berjuang melawan sesak napas akibat gempuran kabut asap, tabir penyebab krisis lingkungan ini kian benderang.
Kabut asap pekat yang memaksa Pemerintah Kota Palembang mendirikan layanan tanggap darurat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) secara serentak di 18 kecamatan tidak datang begitu saja. Bencana tahunan ini berakar dari terbakarnya lebih dari 100 ribu hektare lahan yang melibatkan belasan entitas bisnis skala besar di sekeliling wilayah penyangga.
Kondisi kualitas udara di Ibu Kota Sumatera Selatan berada pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Pemantauan Stasiun PM2.5 BMKG menunjukkan konsentrasi polutan mikron di Palembang sempat melonjak tajam menembus level sangat berbahaya (kategori hitam) dengan angka PM2.5 menembus di atas 280 hingga 366 µg/m³.
Luapan polutan ini tak hanya memotong jarak pandang di alur pelayaran Sungai Musi dan area bandara hingga tersisa 600 meter, tetapi juga langsung memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah masyarakat.
Menanggapi derita warga yang mengeluhkan mata perih, batuk, hingga sesak napas, Wali Kota Palembang Ratu Dewa menginstruksikan seluruh puskesmas dan fasilitas kesehatan kecamatan untuk bersiaga penuh.
Pemkot Palembang membagikan masker gratis, memantau level ISPU secara berkala, serta menyiagakan tabung oksigen dan ruang pemulihan bagi warga yang membutuhkan penanganan medis intensif. Aktivitas belajar-mengajar di sekolah pun sempat dialihkan secara daring guna melindungi anak-anak dari paparan racun udara.
Dinas Kesehatan Sumatera Selatan mencatat jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada September sebanyak 40.555 kasus. Penderita terbanyak berada di Palembang yang mencapai 10.965 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa mengatakan jumlah itu turun dibandingkan Agustus yang mencapai 47.020 kasus. Namun, laporan yang masuk pada September masih bersifat sementara dan berpotensi meningkat seiring akumulasi pemantauan dari puskesmas pelosok.