NADIKABAR.COM — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui harga telur mengalami kenaikan sekitar Rp 26.200 per kilogram (kg) dari sebelumnya di level Rp 22.000 per kg. Namun, Budi memastikan harganya masih di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen yang ditetapkan Rp 30.000/kg.
"Telur hari ini Rp 26.200-an, harga acuannya kan Rp 30.000. Artinya, masih di bawah harga acuan, memang naik dari sebelumnya yang dulu sampai Rp 22.000, Rp 24.000, sekarang ke Rp 26.000," ujar Budi di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026).
Budi memastikan pemerintah ingin menjaga harga-harga kebutuhan bahan pokok, termasuk telur. Namun, ia menilai diperlukan harga yang ideal sehingga peternak tidak dirugikan.
Ia mencontohkan harga jual telur di level Rp 22.000/kg atau Rp 24.000/kg membuat peternak merugi akibat tidak mampu membeli pakan. Kondisi ini sempat memicu aksi protes hingga telur dibuang.
"Telur itu ketika harga Rp 22.000, Rp 24.000, peternak kan tidak bisa berproduksi. Ya karena tidak bisa beli pakan dan sebagainya. Makanya dulu ada demo sampai telur dibuang-buang. Nah ketika mendekati Rp 30.000 itu sebenarnya harga yang ideal," beber Budi.
Menurutnya, harga acuan yang dipatok Rp 30.000/kg merupakan titik ideal yang mempertemukan kepentingan produsen dan konsumen. Dengan harga tersebut, peternak dapat menutup biaya produksi dan membeli pakan. Sementara dari sisi konsumen, harganya tetap dikalkulasikan agar terjangkau oleh daya beli masyarakat.
"Kita hitung dulu berapa biaya produksi, biaya distribusi dan sebagainya. Kita hitung, oh ketemunya angka sekian. Kita jadi ketika harga ideal maka peternak tetap jalan, konsumen juga kita lindungi. Dengan harga yang sesuai dengan daya beli masyarakat," jelas Budi.
Pada saat yang sama, Budi juga memastikan ketersediaan beras premium di ritel tetap aman. Beras premium sebelumnya dilaporkan sempat kosong karena dinilai ada kaitannya dengan masalah beras fortifikasi yang sedang diselidiki oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dan aparat penegak hukum (APH).
"Kan sekarang sudah ini ya, sudah diisi oleh Bulog itu ya di retail modern saya pikir nggak ada masalah stoknya cukup," tambah Budi.