NADIKABAR.COM — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi remaja serta usia produktif, yang lebih masif di media sosial agar lebih sadar tentang otonomi atas tubuhnya.
"Sekarang anak baru lahir, sudah pegang handphone, ketika sudah scroll (menggulir) TikTok, yang dibuka oleh orang tua bisa keluar dan dilihat anak. Di situlah pentingnya edukasi kesehatan reproduksi," katanya dalam puncak peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia di Jakarta, Rabu.
Wihaji menegaskan, edukasi kesehatan reproduksi semakin penting karena perubahan zaman, teknologi, dan akses anak terhadap telepon seluler serta media sosial membuat mereka lebih mudah terpapar berbagai informasi, termasuk konten yang tidak sesuai usia.
"Tanpa edukasi yang memadai, paparan tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya persoalan seperti pelecehan dan penyimpangan seksual," ujar dia.
Ia menekankan bahwa pendekatan edukasi kesehatan reproduksi tidak bisa disamakan dengan masa lalu. Anak-anak saat ini sejak usia dini telah berinteraksi dengan teknologi dan algoritma media sosial yang memengaruhi informasi yang mereka terima.
Wihaji menegaskan, paradigma mengenai keluarga berencana (KB) saat ini tidak bisa hanya dipahami sebatas tentang kontrasepsi belaka, tetapi juga dampak KB terhadap kesehatan fisik, mental, hingga ekonomi.
"Semangat dari kontrasepsi itu memastikan bahwa apa yang ada pada diri kita bisa turut menjaga kesehatan fisik, mental, dan ekonomi. Itu semangat keluarga berencana yang pendekatannya dengan metode kontrasepsi," ujar dia.
Oleh karena itu, metode komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) mengenai kesehatan reproduksi perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi penerima, termasuk bagi remaja, dengan pendekatan lebih inklusif mengusung prinsip tidak ada satupun yang tertinggal atau no one left behind, termasuk teman-teman disabilitas.
Dalam rangka memperluas akses kesehatan reproduksi, Kemendukbangga/BKKBN juga telah meluncurkan buku panduan inklusif untuk memperluas akses kesehatan reproduksi bagi penyandang disabilitas.
"Hari ini kita memberikan akses seluas-seluasnya, kita berikan pedoman dan edukasi, khususnya bagi penyandang disabilitas yang punya hak yang sama sebagai warga negara untuk mendapatkan informasi yang berkenan dengan hal-hal tentang keluarga berencana, terutama kesehatan reproduksi," ucap Wihaji.
Beberapa materi pembinaan dalam panduan edukasi kesehatan reproduksi pada remaja inklusif di antaranya terkait nilai, norma dan relasi; seksualitas dan perilaku seksual; kesehatan reproduksi dan permasalahannya; melindungi diri dari kekerasan; serta dukungan dan layanan kesehatan reproduksi.