NADIKABAR.COM β€” Sampah bagi sebagian orang mungkin hanyalah sesuatu yang harus segera dibuang, namun, di sejumlah sudut Kota Makassar, botol plastik, kardus, kertas, hingga kemasan bekas justru dipandang sebagai sesuatu yang masih memiliki nilai.

Di tangan warga dan pengelola bank sampah, benda-benda yang selama ini dianggap tidak berguna itu dapat berubah menjadi rupiah, beras, bahkan emas.

Perubahan cara pandang tersebut tidak datang dalam semalam. Di Ballaparang, Kecamatan Rappocini, misalnya, upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap sampah telah dimulai sejak 2009. Dua tahun kemudian, bank sampah unit (BSU) pertama lahir pada 2011.

Saharuddin Ridwan, seorang penggerak bank sampah yang berlatar belakang jurnalis, menjadi salah satu sosok yang ikut mendorong perubahan itu di tengah masyarakat yang sebagian besar berstatus ekonomi prasejahtera.

Warga yang sebelumnya kurang peduli terhadap sampah perlahan mulai mengumpulkan sampah anorganik untuk ditukar dengan uang atau beras. Setiap transaksi dicatat dalam buku bank sampah, sehingga sampah yang sebelumnya berakhir sebagai limbah mulai memiliki nilai ekonomi.

Dari sembilan unit bank sampah yang beroperasi pada 2011, jumlahnya berkembang menjadi 43 unit setahun kemudian. Program β€œsampah tukar beras” ikut menarik minat warga.

Perkembangan itu terus berlanjut. Data UPT Bank Sampah Pusat Kota Makassar mencatat bank sampah aktif mencapai 91 unit pada 2021-2022, meningkat menjadi 316 unit pada 2023 dan 348 unit pada 2024. Data Dinas Lingkungan Hidup Makassar kemudian mencatat jumlah BSU mencapai 433 unit pada 2025 dan meningkat menjadi 670 unit pada pertengahan 2026 yang tersebar di 15 kecamatan.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah mulai bergerak dari sekadar kegiatan lingkungan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.

Di Kecamatan Tallo, misalnya, sampah yang dibawa dari 15 kelurahan tidak langsung dibuang. Plastik, kertas, kardus, dan material lain terlebih dahulu dipilah berdasarkan jenisnya.

Sistem tersebut membentuk rantai pengelolaan yang menghubungkan masyarakat sebagai penghasil sampah dengan pihak yang memanfaatkan kembali material tersebut. Sampah dikumpulkan melalui BSU di tingkat kelurahan, kemudian bergerak ke bank sampah sektoral di kecamatan dan bank sampah pusat sebelum diteruskan kepada vendor atau mitra pengelola.

Di BSS Tallo, misalnya, sebanyak 322 anggota kini tidak hanya memiliki buku tabungan sampah. Mereka juga dapat memantau tabungan dan harga sampah secara digital.

Harga pun bergantung pada kualitas pemilahan. Botol plastik yang telah dibersihkan dari label dan dipisahkan tutupnya dapat dihargai Rp17 ribu per kilogram. Sementara botol plastik campur hanya sekitar Rp5 ribu per kilogram. Artinya, semakin baik warga memilah, semakin tinggi pula nilai ekonomi yang dapat diperoleh.