NADIKABAR.COM — Pernahkah mengalami mimpi yang terasa begitu nyata? Bahkan masih mengingat dengan jelas detail kejadiannya, orang-orang yang ada dalam mimpi, tempatnya, hingga alur ceritanya.
Atau Anda termasuk orang yang tidak bisa mengingat mimpi?. Mimpi memang tidak selalu bisa diingat dengan baik pada semua orang. Mereka yang merasa tidak pernah bermimpi juga sebenarnya mengalaminya hanya saja mereka tidak mengingatnya saat bangun tidur.
Ternyata, kemampuan mengingat mimpi berkaitan dengan aktivitas otak dan ada beberapa faktor yang memengaruhinya. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Mimpi terjadi saat memasuki fase tidur rapid eye movement atau disebut REM. Mengutip Healthline, fase ini ditandai dengan gerakan mata dan pernapasan yang lebih cepat serta meningkatnya gerakan tubuh.
Fase tidur REM bisa memicu terjadinya mimpi karena aktivitas gelombang otak yang mirip ketika seseorang sedang tersadar. Biasanya fase ini akan muncul sekitar 90 menit setelah seseorang tertidur dan terjadi selama satu jam sebelum bangun dari tidur.
Pernahkah bermimpi yang sedih dan terbangun dalam kondisi menangis dengan perasaan gelisah? Atau mengalami mimpi indah yang membuat mood menjadi baik seharian?
Nah, menariknya mimpi juga bisa memengaruhi suasana hati. Mengutip dari UCLA Health, sebuah penelitian menemukan bahwa lebih dari 40 persen pesertanya merasa suasana hati mereka dipengaruhi dari mimpinya.
Bermimpi tentang kematian atau hal-hal yang menimbulkan perasaan cemas bisa membuat suasana hati seseorang menjadi buruk. Begitu pula sebaliknya, bermimpi hal-hal indah seperti berkumpul bersama orang lain atau sedang makan dan minum bisa memperbaiki mood.
Faktor yang memengaruhi ingatan mimpi
Setelah memahami mimpi bisa terjadi, mungkin akan timbul sebuah pertanyaan. Apabila semua orang bermimpi, mengapa ada yang mengingatnya dan ada juga yang melupakannya setelah bangun dari tidur?
Mengutip Psychology Today, kebiasaan melamun berhubungan dengan kemampuan seseorang mengingat mimpi. Mereka yang sering melamun biasanya membiarkan pikirannya kemana-mana. Kondisi ini membuat mereka lebih peka terhadap hal-hal yang muncul pada pikirannya, termasuk mimpi.
Selain itu, pengalaman traumatis seseorang juga bisa membuat mimpi terasa seperti nyata atau menciptakan mimpi buruk yang lebih mudah diingat saat bangun dari tidur. Hal ini bisa terjadi saat baru kehilangan orang terdekat lalu seseorang memimpikan hal tersebut dengan detail.
Uniknya, ternyata kemampuan mengingat mimpi juga berhubungan dengan jenis kelamin. Terdapat penelitian yang menemukan bahwa remaja perempuan lebih sering mengingat mimpi dibandingkan remaja laki-laki.
Tidak hanya itu, penelitian tersebut juga menemukan bahwa seseorang yang lebih mudah mengingat mimpinya menilai diri mereka lebih kreatif jika dibandingkan seseorang yang jarang mengingat mimpinya.
Ternyata ada alasan lain yang lebih sederhana, yaitu karena menganggap mimpi tidak terlalu penting. Tidak semua orang memikirkan mimpi mereka saat tidur atau mungkin mereka tidak mengingatnya karena aktivitasnya yang sibuk. Lama-lama ingatan tentang mimpi bisa memudar dan terlupakan.