Kucing juga memiliki sistem penciuman yang canggih dan dapat membedakan tim redaksi aroma pemiliknya dan orang asing. Saat diberi sampel aroma yang diambil dari pemiliknya dan dari manusia asing, kucing menghabiskan waktu lebih lama untuk mengendus aroma orang asing. Hal tersebut menunjukkan mereka dapat mengidentifikasi manusia yang dikenal berdasarkan isyarat sensorik.
Hewan tersebut juga dapat mendeteksi aroma yang terkait dengan emosi manusia. Dikutip dari BBC Science Focus, dalam sebuah penelitian lain, para peneliti memberikan sampel keringat dari manusia kepada kucing ketika orang-orang tersebut merasa senang, takut, stres, atau netral.
Kucing-kucing itu tidak menyukai aroma yang berasal dari emosi-emosi tidak nyaman. Mereka cenderung meratakan telinga, mengibaskan ekor, menjadi tegang, dan menjauh.
Jadi, menjadi magnet bagi kucing adalah keterampilan yang dapat dipelajari, apabila seseorang berinteraksi dengan kucing yang tepat dan memperlakukannya dengan baik.