NADIKABAR.COM — Kerusuhan meletus di berbagai kota di Prancis ketika demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan penurunan layanan publik meluas. Demonstrasi yang semula damai berubah menjadi kekerasan, kebakaran hingga penjarahan yang terburuk selama beberapa dekade.
Dilansir AFP dan Reuters, Minggu (18/10/2026), ratusan ribu orang berdemonstrasi secara damai di jalanan di puluhan kota Prancis. Namun terdapat sejumlah kelompok-kelompok massa yang melakukan kekerasan menargetkan gedung-gedung publik, menjarah butik mewah dan supermarket, serta menyerang kendaraan dan petugas polisi.
Sejumlah bangunan di kota-kota Prancis dibakar dan dirusak massa. Di Limoges balai kota dibakar massa, sementara di Marseille para demonstran berpakaian hitam menerobos masuk ke balai kota dan merusak bangunan dengan grafiti anarkis. Tak hanya itu, di Lyon, para demonstran membakar kantor pariwisata kota.
Para pengunjuk rasa mengatakan sebagian besar orang melakukan long march dengan damai terkait biaya hidup. Mereka menganggap sebagian besar kekerasan disebabkan oleh para perusuh yang berniat menyebabkan kerusakan dan bentrok dengan polisi. Banyak massa yang membawa spanduk bertuliskan slogan-slogan menentang polisi, presiden, dan orang kaya.
"Kami berjuang karena biaya hidup terlalu tinggi, karena harga bahan bakar terlalu mahal, karena siswa sekolah menengah diserang dan dilukai secara brutal di seluruh negeri hanya karena mencoba memprotes dan meminta lebih banyak guru dan kondisi belajar yang layak," kata Lola, seorang pengunjuk rasa berusia 19 tahun di Paris.
Wakil Wali Kota Paris, Emmanuel Gregoire, mengatakan seluruh ruas jalan di Paris "telah hancur lebur". Kelompok pemuda bertopeng membakar mobil-mobil yang terparkir dan menjarah berbagai toko.
Diketahui, demo di Prancis bermula sejak bulan lalu di sekolah-sekolah menengah di wilayah pinggiran utara Paris. Kemarahan akibat kekurangan guru dan fasilitas yang buruk berkembang menjadi gerakan yang lebih luas, yang berfokus pada isu ketimpangan, pengeluaran publik, dan standar hidup. Kerusuhan ini juga berlangsung enam bulan menjelang pemilu untuk menggantikan Presiden Emmanuel Macron.
Demo tersebut digelar pada hari Sabtu, di Paris dan sejumlah kota lainnya di Prancis. Para pengunjuk rasa yang mengenakan rompi dengan visibilitas tinggi memblokir jalanan, mengingatkan kembali pada gerakan "Rompi Kuning" (Yellow Vest) yang mewarnai masa jabatan Macron sebelumnya.
Demo tersebut menuntut terkait biaya hidup yang sebagian dipicu oleh perang di Timur Tengah. Salah satu pendemo mengaku sudah muak dengan upah yang rendah, sementara biaya hidup terus meningkat.
"Kami sudah muak bekerja keras dengan upah yang sangat rendah, sementara biaya sewa terus naik," ujar seorang guru bernama Regine Monfroid kepada AFP di kota Strasbourg, wilayah timur Prancis.
Namun, ada pula isu-isu lain yang disuarakan. Di Paris, puluhan ribu orang berpawai melintasi wilayah timur dan utara kota dalam sebuah aksi besar. Beberapa peserta meneriakkan slogan seperti "Semua orang membenci polisi" dan "Macron, mundur!".
Pengunjuk rasa lainnya, seorang siswa sekolah menengah Kamil Alahyan (18) mengatakan ia ikut demo "karena banyak alasan, pemilu yang akan datang pada 2027, politisi yang berbohong, serta kelompok ultra-kaya yang terus menumpuk kekayaan dalam 10 tahun terakhir."
Beberapa pengunjuk rasa mencoba menarik perbandingan dengan Revolusi Prancis tahun 1789.
"Ini adalah Revolusi, kita sedang merebut Bastille!" teriak sejumlah orang di Marseille saat mereka menerobos masuk ke kantor wali kota.
Di kota La Rochelle, Prancis bagian barat, para peserta pawai berjalan di belakang sebuah poster bertuliskan "Revolusi atau mati."
Sebagian besar demo dimulai pada tengah hari, beberapa titik demo bahkan dimulai sebelum dimulainya demonstrasi resmi.
Di beberapa bagian Paris, polisi menembakkan gas air mata saat mereka mundur menghadapi para demonstran. Para demonstran banyak mengenakan pakaian hitam dan memakai hoodie, masker, dan kacamata untuk melindungi diri dari gas air mata.
Para perusuh mencoba menerobos masuk ke department store Galeries Lafayette, menghancurkan bank, menjarah toko Lacoste serta butik-butik lainnya, dan merampok toko telepon seluler SFR. Para demonstran juga membakar berbagai benda sepanjang hari, termasuk sejumlah mobil.
Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menghadapi pengunjuk rasa yang melemparkan berbagai benda dan menembakkan kembang api ke arah petugas.
Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa di kota Saint-Etienne, Prancis bagian selatan.
Taktik kepolisian menuai kritik menyusul jatuhnya korban luka di kalangan demonstran, termasuk seorang remaja yang kehilangan tangannya setelah memungut granat kejut (stun grenade). Lembaga pengawas kepolisian saat ini tengah menyelidiki setidaknya puluhan dugaan kekerasan oleh aparat.
Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengatakan pemerintah tidak akan "terintimidasi" oleh kekerasan. Ia menyalahkan kerusuhan tersebut pada "sayap kiri ekstrem" dan para penjahat hanya beberapa bulan sebelum pemilihan presiden tahun depan.
"Kepada mereka yang jelas-jelas ingin menggunakan kekerasan ini sebagai 'pemanasan' sebelum pemilihan presiden, saya katakan dengan tegas Kami tidak akan membiarkan diri kami diintimidasi. Tidak seorang pun akan memaksakan agenda politik mereka melalui kekerasan," tulisnya melalui unggahan di X.
Sekitar 1.200 orang telah ditangkap sebagai bagian dari protes tersebut. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengatakan sekitar 550.000 orang mengikuti demo tersebut di seluruh negeri. Namun serikat pekerja CGT mengatakan diperkirakan jumlah demonstran mencapai 800.000 orang.
Lecornu menyatakan lebih dari 150 petugas kepolisian terluka dalam aksi tersebut, namun ia tidak menyebutkan apakah ada pengunjuk rasa yang turut terluka.
Presiden Emmanuel Macron berjanji untuk menuntut dan menghukum orang-orang yang telah melakukan serangan tersebut.
"Kita semua akan bersatu melawan para penebar kekacauan, yang hanya berusaha merusak institusi kita dan mencegah mereka yang secara damai menyampaikan tuntutan mereka untuk melakukannya," tulisnya dalam sebuah unggahan di X.
Belgia, Portugal, dan Italia juga menghadapi protes skala kecil pada hari Sabtu karena biaya hidup meningkat di Eropa. Sementara itu massa demo di Albania juga berunjuk rasa menentang korupsi pemerintah, kurangnya lapangan kerja, dan standar pendidikan yang buruk.
Dalam demo yang sebagian terinspirasi oleh protes di Prancis, beberapa ratus orang, sebagian besar anak muda, juga berdemonstrasi di Brussels. Beberapa di antaranya juga bentrok dengan polisi.
Kelompok mahasiswa Belgia mengatakan mereka memprotes kenaikan biaya pendidikan dan reformasi yang mereka khawatirkan akan membuat pendidikan tinggi kurang terjangkau.
Di Albania, polisi menembakkan apa yang tampak seperti peluru karet ke arah para demonstran selama hari kelima demonstrasi mahasiswa massal yang menyerukan Perdana Menteri Edi Rama untuk mundur.
Di Portugal, puluhan ribu orang turun ke jalan-jalan Lisbon setelah beberapa hari kerusuhan untuk memprotes biaya perumahan dan biaya hidup lainnya. Harga perumahan di Portugal telah berlipat ganda sejak 2017, memicu salah satu krisis keterjangkauan terburuk di Eropa.
Di Italia, demo yang menentang biaya hidup tinggi di Milan berubah menjadi kekacauan, dengan polisi membersihkan alun-alun katedral pusat dengan gas air mata. Polisi di Bologna menggunakan meriam air untuk mencoba membubarkan massa dan melakukan tujuh penangkapan setelah protes lain berubah menjadi kekerasan, lapor kantor berita ANSA.