NADIKABAR.COM — Pernahkah Anda berbaring di atas kasur, mematikan lampu, dan bersiap untuk tidur, tetapi pikiran justru mendadak ramai? Kenangan beberapa tahun lalu, kecemasan akan pekerjaan besok, hingga pertanyaan eksistensial tentang masa depan seolah antre untuk dipikirkan. Fenomena overthinking atau berfikir berlebihan di malam hari adalah pengalaman yang sangat umum, namun sering kali mengganggu kualitas istirahat kita.

Lantas, mengapa otak kita justru menjadi sangat aktif ketika tubuh sudah merasa lelah dan siap untuk beristirahat?

1. Hilangnya distraksi pagi dan sore hari

Sepanjang hari, pikiran kita terus disibukkan oleh berbagai aktivitas: pekerjaan, rutinitas rumah tangga, interaksi sosial, hingga hiburan dari gawai. Berbagai distraksi ini menutupi kecemasan atau emosi yang belum terselesaikan. Namun, saat anda berbaring di tempat tidur dalam kondisi kamar yang hening dan gelap, semua distraksi tersebut mendadak hilang. Ruang sunyi inilah yang memberi panggung bagi pikiran-pikiran yang terpendam sepanjang hari untuk akhirnya muncul ke permukaan.

2. Penurunan kontrol eksekutif otak (prefrontal cortex)

Secara biologis, bagian otak yang bertanggung jawab atas logika, pengambilan keputusan, dan kontrol emosi yaitu prefrontal cortex mulai mengalami penurunan fungsi akibat kelelahan setelah seharian bekerja. Di sisi lain, amygdala bagian otak yang merespons rasa takut dan kecemasan tetap aktif. Kombinasi antara otak emosional yang aktif dan otak logis yang lelah membuat kita sulit mengontrol arah pikiran. Akibatnya, masalah kecil terasa jauh lebih besar dan menakutkan di malam hari.

3. Stres terakumulasi dan default mode network (DMN)

Saat tidak sedang fokus pada tugas tertentu, otak kita masuk ke dalam mode yang disebut Default Mode Network (DMN). Mode ini aktif ketika kita melamun, merenung, atau memikirkan diri sendiri. Jika seharian kita menimbun stres tanpa sempat mengolahnya, DMN akan secara otomatis memproses sisa-sisa Stres dan kekhawatiran tersebut saat kita mencoba tidur.

4. Penggunaan gawai yang berlebihan

Kebiasaan menatap layar smartphone sebelum tidur turut memperburuk kondisi ini. Paparan blue light dari gawai menekan produksi hormon melatonin (hormon pemicu tidur). Selain itu, konten yang kita konsumsi di media sosial sering kali memicu respons emosional, banding-bandingan sosial, atau kecemasan baru yang terus berputar di otak sewaktu kita mematikan layar.

Dari banyaknya pemicu yang sudah dijelaskan di atas untuk memutus rantai overthinking di malam hari, mungkin bisa mencoba metode brain dump menuliskan semua kekhawatiran di buku catatan sebelum naik ke tempat tidur untuk "mengeluarkan" beban dari pikiran. Melatih pernapasan lambat atau meditasi ringan juga sangat membantu menenangkan sistem saraf pusat agar tubuh siap memasuki fase istirahat dengan lebih tenang, demikian merangkum sejumlah sumber.