Sementara itu, Sepideh Raissadat, seorang etnomusikolog yang telah lama meneliti sejarah dan perkembangan musik Persia, mengatakan bahwa upaya mendekati tokoh-tokoh terkenal yang tinggal di luar negeri bukanlah hal baru.
"Keinginan untuk merangkul tokoh-tokoh tertentu yang dianggap oleh kalangan reformis lebih kecil kemungkinannya melanggar aturan pemerintah, serta mengajak mereka bekerja sama atau kembali ke Iran, bukanlah hal yang baru," ujarnya.
Raissadat sendiri adalah penyanyi musik klasik Persia yang dikenal secara internasional. Selain berkarya sebagai musisi, ia juga melakukan penelitian akademis. Salah satu disertasinya membahas kehidupan para penyanyi perempuan Iran sejak Revolusi Islam pada 1979.
"Revolusi 1979 di Iran adalah revolusi yang menentang musik. Musik satu hal yang terlarang," kata Raissadat.
Pernyataan tersebut merujuk pada pandangan pemimpin revolusi, Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang sejak Juli 1979 secara terbuka menyebut musik sebagai sesuatu yang merusak masyarakat dan menyerukan penghapusan total terhadap musik.
Dalam pidato kepada karyawan Radio Darya pada 21 Juli 1979, Khomeini disebut menyatakan bahwa musik adalah "pengkhianatan terhadap negara" dan "pengkhianatan terhadap generasi muda". Beberapa hari kemudian, surat kabar Iran, Keyhan mengutip pernyataannya yang menyamakan musik dengan "narkoba" dan menyebut bahwa musik harus dimusnahkan sepenuhnya.
Namun, selama Perang Iran dan Irak, yang berlangsung dari 1980 hingga 1988, musik kembali mendapat ruang, terutama dalam bentuk lagu-lagu revolusioner dan religius.
Musik kala itu digunakan untuk membangkitkan rasa nasionalis serta memperkuat identitas dan gotong royong antar masyarakat.
Pemerintah Iran juga gagal sepenuhnya menghilangkan suara perempuan dari ruang publik. "Mereka tidak bisa sepenuhnya menghapus suara perempuan. Suara perempuan kembali hadir melalui paduan suara," kata Raissadat.
Meski demikian, konflik antara negara dan musik terus berlanjut. Selama bertahun-tahun, alat musik tidak boleh ditampilkan di televisi Iran. Instrumen musik bahkan disita atau dihancurkan di jalanan.
Karena takut akan konsekuensinya, para musisi enggan membawa alat musik mereka di tempat umum. Sebagian bahkan menyembunyikannya.
"Mendengarkan musik di rumah merupakan tindakan politik dan itu dilarang. Lalu ketika perempuan mulai bernyanyi, itu juga menjadi tindakan politik yang terlarang," ujar Raissadat.
Ia menambahkan bahwa perkembangan musik pop di Iran juga lahir dari ketegangan politik dan budaya represif tersebut.