"Masyarakat mulai menciptakan musik pop baru untuk menyaingi musik yang berasal dari Amerika Serikat," katanya.

Dalam sepuluh tahun terakhir, media sosial yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah menjadi semakin penting dan berpengaruh.

Perubahan ini terlihat jelas di kalangan generasi muda, termasuk musisi perempuan muda yang kini berani bermain gitar tanpa mengenakan jilbab dan tampil di ruang publik.

Raissadat mengamati adanya kecenderungan baru di antara keluarga para pemuda yang tewas dalam gelombang demonstrasi besar di Iran pada akhir Desember 2025 hingga Januari 2026.

Demonstrasi yang dimulai pada 28 Desember 2025 tersebut diwarnai penindasan dan kekerasan oleh aparat keamanan setempat.

Organisasi-organisasi hak asasi manusia melaporkan bahwa ribuan demonstran tewas. Jumlah pasti korban dari aksi tersebut tidak diketahui karena pembatasan informasi yang ketat dari pemerintah Iran.

"Hal paling penting yang kami perhatikan dalam beberapa tahun terakhir adalah penggunaan musik oleh keluarga korban yang tewas akibat demonstrasi. Ini sangat bertolak belakang dengan tradisi dan sejarah Syiah," kata Raissadat.

Dalam sejumlah prosesi pemakaman, keluarga korban mengubah acara penghormatan terakhir menjadi bentuk perlawanan baru.

Alih-alih melantunkan nyanyian religius, mereka memutar musik, sementara para pelayat bernyanyi dan menari bersama. Dengan cara ini, mereka dengan sengaja menciptakan kebiasaan yang berlawanan dengan ritual berkabung yang lazim dilakukan.

Raissadat menjelaskan, "Musik menjadi senjata. Mereka yang berduka dapat terhubung secara personal, sekaligus menjadikan musik sebagai sarana untuk menentang nilai-nilai yang diwakili oleh sistem politik saat ini."

"Bahkan menari dengan mengenakan pakaian putih dalam prosesi pemakaman juga telah menjadi simbol perlawanan," pungkas Raissadat.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam Bahasa Jerman