NADIKABAR.COM — Menurut ahli psikologi, mengeluh bisa bermanfaat bagi kesehatan mental, tetapi juga bisa menimbulkan dampak buruk dan membuat perasaan semakin tidak enak.

"Mengeluh bisa bermanfaat jika hal itu memungkinkan kita meluapkan emosi negatif, mengomunikasikan perasaan, dan memulai proses pemecahan masalah," kata Kerry Cannity, PhD, psikolog kesehatan klinis di SelfWorks, sebagaimana dikutip dalam siaran Real Simple pada Rabu (30/9).

Ia menyampaikan bahwa memendam atau menyangkal perasaan negatif memiliki konsekuensi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa menahan emosi dapat berdampak buruk pada daya ingat, hubungan sosial, dan bahkan kesehatan jantung.

Sementara itu, membicarakan masalah dengan orang yang mau mendengarkan dapat membuat seseorang merasa dipahami dan lebih tenang.

"Terutama jika mereka tidak langsung berusaha memperbaiki masalah atau menyuruh kita untuk tidak merasa demikian," kata Sarah Close, LPC, seorang terapis di BetterHelp.

Menurut ahli psikologi, perbedaan antara mengeluh secara sehat dan tidak sehat ada pada seberapa sering seseorang melakukannya.

"Jika mengeluh menjadi kebiasaan, hal itu justru dapat mulai mengubah cara kerja otak ke arah pandangan yang lebih negatif," kata Cannity.

"Ini dapat meningkatkan fokus pada stimulus yang memicu kemarahan atau ketakutan, yang pada akhirnya meningkatkan kadar hormon stres secara keseluruhan di dalam otak dan tubuh," ia menjelaskan.

Menurut penelitian, saat kita mengeluh, otak melepaskan kortisol, hormon stres, yang jika berlebihan dapat berdampak buruk pada kualitas tidur, tekanan darah, metabolisme, dan fungsi tubuh penting lainnya.

Dalam studi tahun 1996, para peneliti dari Universitas Stanford mendapati bahwa mengeluh atau sekadar mendengarkan keluhan orang lain selama setengah jam atau lebih dapat mengecilkan hipokampus, bagian otak yang berperan dalam ingatan dan pengaturan emosi.

Di luar dampak neurosains itu, kebiasaan mengeluh secara berlebihan juga dapat merusak hubungan antar-pribadi.

"Jika setiap percakapan berubah menjadi ajang mengeluh, lama-kelamaan orang akan enggan melanjutkan percakapan tersebut," kata Mary McLaughlin, LCSW, terapis yang berspesialisasi dalam hubungan.

Terapis Sarah Close, LPC mengemukakan perlunya memperhatikan perasaan setelah mengungkapkan keluhan untuk mengetahui efeknya.

"Apakah saya merasa lebih dipahami atau lebih jelas, atau justru menghidupkan kembali rasa frustrasi dan kembali masuk ke lingkaran yang sama?" ujar Close.

Kalau mengeluh tidak membantu memahami masalah atau mendatangkan solusi, justru menambah kekesalan, maka lebih baik berusaha untuk menguranginya.

Penerjemah: Farika Nur Khotimah