Salah satu tantangan terbesar dalam operasi drone jarak jauh adalah peperangan elektronik.
Rusia diketahui menggunakan sistem electronic warfare untuk mengganggu navigasi drone, termasuk melalui GPS spoofing. Karena itu, FP-1 dilengkapi sistem navigasi yang dirancang agar lebih tahan terhadap gangguan tersebut.
Menurut spesifikasi yang diungkap New Voice of Ukraine, FP-1 menggunakan stasiun optik di tubuh drone serta algoritma navigasi yang dirancang untuk menghadapi GPS spoofing.
Kemampuan ini penting karena FP-1 harus terbang selama berjam-jam menuju sasaran yang berada jauh di dalam wilayah Rusia.
Kemampuan FP-1 untuk menyerang target ribuan kilometer dari Ukraina sudah mendapat perhatian sebelumnya.
Pada 6 Juli 2026, drone FP-1 dilaporkan menyerang Omsk Oil Refinery di Siberia. Kilang tersebut berada lebih dari 2.500 km dari perbatasan Ukraina. Analisis citra satelit kemudian menunjukkan sedikitnya empat titik dampak di fasilitas pengolahan minyak tersebut.
Serangan Omsk menjadi salah satu demonstrasi paling jauh dari kemampuan drone Ukraina. Versi FP-1 yang digunakan disebut telah menggunakan desain sayap yang diperbesar untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar dan jangkauan.
Laporan lain menyebut drone tersebut menempuh jarak sekitar 2.500 km sebelum mencapai Omsk.