Masyarakat Kanembu di Afrika: Di wilayah Danau Chad, Afrika Tengah, suku Kanembu telah lama memanen mikroalga ini dari genangan air alkali. Mereka mengeringkannya di atas pasir hingga keras dan membentuknya menjadi makanan yang dikenal sebagai Dihé, yang dimakan bersama sup atau sayuran. Popularitas spirulina di dunia modern dimulai pada tahun 1960-an ketika seorang ahli botani asal Prancis, Jean Leonard, meneliti keberadaan Dihé di pasar-pasar tradisional Chad. Penelitian tersebut mengungkap kandungan nutrisi luar biasa dalam spirulina, seperti protein tinggi (mencapai 60–70% dari berat kering), asam amino esensial, zat besi, beta-karoten, serta senyawa antioksidan fikosianin.
Pada tahun 1970-an, badan PBB seperti Food and Agriculture Organization (FAO) dan WHO mulai mempromosikan budidaya spirulina sebagai solusi potensial untuk mengentaskan kelaparan dan malnutrisi global.
Bahkan, NASA dan European Space Agency (ESA) mengevaluasi spirulina sebagai tanaman potensial untuk ditanam di stasiun luar angkasa guna mendukung nutrisi para astronaut dalam misi jangka panjang, mengutip ResearchGate dan sumber lain.