Berdasarkan laporan Gubernur Sumatera Selatan yang diterimanya, intervensi tersebut diikuti peningkatan jarak pandang dari sekitar 300 meter menjadi 2.800 meter. Sementara itu, angka PM2.5 yang dilaporkan sebagai indikator kualitas udara turun dari 660 menjadi 200.

Meski begitu, ia menegaskan perubahan tersebut belum dapat sepenuhnya dikaitkan dengan penggunaan dry ice. BMKG masih akan mengevaluasi kemungkinan adanya faktor lain yang turut mempengaruhi perubahan jarak pandang dan kualitas udara.

“Teman-teman BMKG mengatakan kita akan evaluasi, apakah benar penurunan itu murni karena dry ice atau mungkin ada kontribusi faktor lain. Jadi, sekali lagi, ini masih sedang dikembangkan,” ujarnya.

Raja Juli menyebutkan, uji coba tersebut merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah untuk mencari alternatif penanganan kabut asap, terutama ketika kondisi atmosfer dan cuaca belum mendukung penurunan konsentrasi asap secara alami.

Ia mengakui belum menguasai secara terperinci aspek teknis penerapan metode tersebut. Karena itu, Kemenhut terus berkomunikasi dengan BMKG untuk memperoleh penjelasan dan perkembangan mengenai pelaksanaannya.

Ia menambahkan, uji coba di Kalimantan Tengah akan melibatkan sejumlah pihak, termasuk TNI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan operasional serta dukungan pendanaan yang tersedia.