Ia menyebutkan dalam upaya penanggulangan karhutla ini pemerintah telah mengoptimalkan tiga upaya melalui jalur udara, yakni operasi modifikasi cuaca (OMC), pengembangan teknologi pembentukan awan menggunakan dry ice, serta pemadaman menggunakan helikopter water bombing.

Operasi modifikasi cuaca dilaksanakan oleh BMKG dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan, termasuk dukungan pendanaan dari kedua instansi tersebut.

β€œKita melakukan operasi modifikasi cuaca. Jadi, kalau dua hari belakangan ada terjadi hujan, itu bukan hujan alami, tetapi operasi modifikasi cuaca,” ujarnya.

Namun, pelaksanaan OMC masih bergantung pada ketersediaan bibit awan. Kondisi El Nino yang menyebabkan minimnya awan hujan menjadi kendala tersendiri, terutama di wilayah Kalimantan Tengah bagian selatan.

Pemerintah juga terus mengembangkan teknologi dry ice sebagai salah satu upaya mendukung modifikasi cuaca. Penelitian yang dilakukan BMKG bersama Thailand masih dalam tahap pengembangan dan pengujian.

Sementara itu, operasi water bombing menghadapi kendala jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap. Raja Juli menyebutkan terdapat enam helikopter milik BNPB dan satu helikopter Kementerian Kehutanan di Kalimantan Tengah, di luar armada milik perusahaan swasta.

β€œTetapi, karena jarak pandang yang terbatas, sehingga water bombing tersebut tidak bisa beroperasi. Kita tidak mau memaksakan karena apabila dipaksakan malah terjadi korban. Kita tidak akan mempertaruhkan nyawa saudara-saudara kita,” ungkapnya.