NADIKABAR.COM — Pagi yang baru merekah di pesisir Oetefu menyapa hangat Yuliana Antonia Messa yang sudah berpeluh di antara petak-petak tambak garamnya.

Peluh menjadi saksi perjalanan panjang perempuan yang akrab disapa Mama Nia itu. Lebih dari empat dekade, ia menggantungkan hidup pada hamparan tambak dan butiran kristal putih yang dihasilkannya.

Bagi dia dan masyarakat pesisir Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, bertani garam telah menjadi bagian dari kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.

Pekerjaan yang terus dijalani dari satu generasi ke generasi berikutnya itu menjadi tumpuan penghidupan banyak keluarga di wilayah pesisir pulau paling selatan Nusantara.

“Kami masyarakat di sini menganggap garam adalah 'terang'. Kita laksanakan apa yang sudah diterapkan oleh nenek-moyang. Kami lanjutkan karena firman Tuhan itu garam adalah terang dunia,” kata Mama Nia.