NADIKABAR.COM β€” Psikolog klinis dewasa Miki Amrilya Wardati, S.Psi., M.Psi., Psikolog mengatakan dukungan sederhana yang dapat dilakukan keluarga maupun orang terdekat kepada seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental dengan terbuka menjadi pendengar.

β€œDukungan paling sederhana itu kita terbuka untuk menjadi pendengar sehingga kita tahu apa sebetulnya yang dialami, yang dirasakan, yang menjadi keluh kesah orang yang sedang memiliki keluhan tadi,” kata Miki yang juga Mitra Psikolog Halodoc itu, di Jakarta, Kamis (8/10).

Miki mengatakan setelah menjadi pendengar, orang terdekat dapat memberikan masukan jika memungkinkan. Namun, sekiranya ternyata keluhan-keluhan tersebut yang dihadapi berada di luar kemampuan, sebaiknya didukung untuk mencari bantuan profesional.

β€œDi support untuk mendapatkan bantuan dari profesional yang paling memungkinkan untuk terjangkau, entah itu dari online atau tatap muka. Tapi langkah pertama yang paling dasar itu menjadi pendengar,” ujar Miki.

Miki mengatakan merespons orang terdekat --yang menjadikan kita sebagai tempat untuk merilis emosinya-- sebaiknya dilakukan dengan mendengarkannya secara aktif. Respons tersebut juga dapat disertai validasi terhadap perasaan dan keluhan yang diungkapkan, sehingga orang tersebut merasa dipahami.

Di sisi lain, Miki juga mengingatkan tetap perlu memahami batas kemampuan diri ketika memberikan dukungan. Apabila merasa dengan menjadi tempat untuk rilis emosi orang lain tersebut mulai terasa berat atau menguras energi, dia menyarankan agar menetapkan batasan.

Dalam kondisi ada batasan itu, dukungan dapat diberikan dengan mengarahkan orang yang bersangkutan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

β€œJadi cukup dengarkan, kemudian validasi perasaannya. Kalau dirasa sudah tidak mampu lebih jauh memberikan bantuan, segera support untuk konsultasi pada profesional,” tutur psikolog yang tergabung dalam Ikatan Psikolog Indonesia itu.

Ia menambahkan ketika seseorang meluapkan emosi disertai menyalahkan kita, upaya menenangkan dan memberikan penjelasan dapat dilakukan jika situasinya memungkinkan. Ketika dijadikan tempat pelampiasan dan ada unsur disalahkan itu juga perlu untuk mengklarifikasi.

Namun jika mengklarifikasi itu juga menjadi seolah-olah tidak mempan, tidak ada dampak atau malah lebih terus disalahkan, penting untuk menetapkan batasan diri atau self-boundaries, serta mengarahkannya untuk mendapatkan bantuan dari tenaga profesional.

β€œKalau tidak memungkinkan ya beri batasan diri terhadap orang tersebut gitu, karena kita juga harus kenal kesanggupan kita untuk menanggapi orang tersebut sejauh apa,” saran dia.