βDi tengah kesibukan area pembatikan, sorot mata penuh konsentrasi terpancar dari para perajin difabel yang tekun menggoreskan canting, meracik warna, hingga menyelesaikan tahapan produksi.
βBagi para warga binaan disabilitas ini, kesempatan memegang canting dan kain bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan jembatan untuk meraih martabat diri.
βSalah seorang perajin yang dipercaya menjadi motor produksi Batik Ge Hade adalah Nurdin. Penyandang daksa asal Cianjur ini menceritakan rasa syukurnya karena dapat mengekspresikan diri tanpa batas lewat batik, yang sekaligus telah mengubah cara pandangnya terhadap masa depan.
βSebelum masuk ke fasilitas ini pada 2020, hari-hari Nurdin di kampung terbilang sepi dan hanya diisi dengan beternak ayam. Kini, ia dipercaya sebagai koordinator pewarnaan sekaligus salah satu sosok yang disegani di Batik Griya Difabel.
β"Dulu saya bingung mau kerja apa karena banyak tempat menolak orang seperti kami. Di sini, saya diajarkan berbagai pengetahuan dan keterampilan, termasuk membatik. Di Batik Ge Hade, saya diajari dari nol, mulai dari cara memegang canting, mencampur warna, sampai membuat motif. Waktu tahu karya buatan kami dibeli orang, bahkan dipakai artis luar negeri, rasa capek langsung hilang. Ada kebanggaan tersendiri, ternyata saya juga bisa," kata Nurdin.